TAK LAYAK : Ketua Mushola Miftahul Jannah, Mianto saat memperlihatkan kondisi mushola tempat anak-anak mengaji. Mianto khawatir mushola ini mendadak roboh karena banyak keretakan dan menurunnya lantai akibat pergeseran tanah. (Foto : Bayu/1News)

ONENEWS, KUKAR – Rencana merenovasi Mushola Miftahul Jannah, yang terletak di RT 18 Desa Manunggal Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kembali gagal dilakukan. Pasalnya, tiga kali diajukan bantuan melalui aspirasi DPRD Kukar, semuanya hilang dan ditolak.

Padahal, Mushola yang berdiri sejak 1985 tersebut sudah sangat mengkhawatirkan alias rawan ambruk. Karena selama berdiri, mushola yang sehari-harinya digunakan warga serta anak-anak sebagai wadah mengaji serta sholat ini, baru direnovasi sekali saja.

“Terakhir direnovasi tahun 1995. Itu menggunakan swadaya masyarakat saja,” ungkap Ketua Mushola Miftahul Jannah, Mianto kepada harian ini.

Aspirasi dewan yang diajukan ke Pemkab Kukar itu sudah dilakukan pada tahun 2017, 2018 dan terakhir 2019. Untuk tahun 2017 dan 2018, aspirasi tersebut hilang lantaran Pemkab berasalan sedang defisit anggaran. Tapi di tahun 2019 ini aspirasi itu mendadak ditolak dengan alasan musholanya tidak memiliki Surat Keputusan (SK) dari Kecamatan Tenggarong Seberang.

“Kami mengajukan aspirasi ini sudah melalui verifikasi mulai desa hingga kecamatan. Padahal saat penganggaran pertama aspirasi ini kata Pak Alif (anggota DPRD Kukar,Red) masuk, tapi pas kami periksa lagi malah hilang dan ditolak. Alasannya ya itu, SK-nya nggak ada,” terang Mianto.

Untuk merenovasi ulang mushola ini membutuhkan dana sekitar Rp 500 juta. Tapi aspirasi yang diajukan itu hanya Rp 200 juta. Karena rencananya, sisa dari renovasi akan menggunakan swadaya masyarakat atau bertahap.

“Disini ada 50 anak yang ikut TPA saat sore hari, kemudian malamnya dipakai lagi yassinan oleh para orang tua. Apakah menunggu mushola ini roboh dulu? Semoga saja tidak terjadi apa-apa,” ungkap Ketua BPD Manunggal Jaya ini.

Untuk diketahui, Mushola Miftahul Jannah ini berada tepat dipinggir jalan poros Tenggarong Seberang – Sebulu atau tak jauh dari Kantor Kecamatan.

Karena letaknya berada dipinggir jalan, getaran akibat kendaraan berat yang melintas, mengakibatkan banyak retakan dan pergeseran ditiang hingga lantai. Untuk mencegah keretakan makin membesar, pengurus-pun terpaksa menambalnya menggunakan semen.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kukar, Alif Turiadi mengaku sudah dua kali mengajukan aspirasi renovasi mushola itu ke Pemkab Kukar, yakni tahun 2018 dan 2019. Tapi kendalanya, adanya kebijakan Bupati Kukar yang hanya meng-SK-kan Masjid kecamatan saja, sementara tempat ibadah kecil seperti mushola tidak memiliki SK.

“Hal ini tentu sangat tidak bijaksana. Saya akan perjuangkan agar tempat ibadah yang kecilpun harus mendapatkan porsi yang sama,” tegas politisi Partai Gerindra ini.

Menurutnya, pemerintah kurang peduli dengan tempat-tempat ibadah yang ada di seluruh desa, dengan dalih SK tempat ibadah hanya diperuntukkan untuk tingkat kecamatan saja. Akibatnya, hal tersebut membuat desa tidak mendapatkan porsi anggaran untuk memperbaiki dan membangun tempat ibadah.

“Kalau dewan sudah tupoksinya menganggarkan. Tapi ini karena bupatinya yang tidak berani melaksanakan, takut ada temuan,” cetus Alif. (bay)

Berikan Tanggapanmu