TERDAMPAR MATI : Petugas Polairud Polresta Balikpapan saat memperlihatkan Bangkai Paus Bungkuk yang ditemukan terdampar di Pantai Sepinggan Raya, Kota Balikpapan. (ist)

ONENEWS, BALIKPAPAN – Seekor bangkai Paus Bungkuk atau Humpback Whale (Megaptera Novaeangliae), Minggu (1/12/2019) sore kemarin sekitar pukul 15.00 Wita ditemukan terdampar di Pantai Sepinggan Raya, tepatnya di Lanud Dhomer Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim).

Paus sepanjang 10,60 meter dan berdiameter 5 meter tersebut ditemukan mengapung dekat tepi pantai dalam kondisi sangat membusuk. Oleh petugas Polairud, TNI, BPBD dan Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DP3) Balikpapan, bangkai paus tersebut langsung ditangani dan dibakar, Senin (2/12/2019) dini hari sekitar pukul 04.00 Wita.

“Ada beberapa opsi untuk penanganan mamalia laut yang terdampar yakni bisa dikubur, dibakar atau ditenggelamkan di laut. Untuk bangkai paus ini kami bakar di pantai,” jelas Koordinator TPI (DP3) Balikpapan, Heri Seputro kepada 1News.id, Senin pagi.Mengenai penyebab kematian paus yang diperkirakan berusia 10 tahun ini, Ia mengungkapkan bisa disebabkan beberapa faktor.

“Bisa saja paus ini diserang predator seperti ikan hiu atau ada sebab-sebab lainnya yang tidak diketahui,” ujar Heri.

Paus bungkuk adalah paus balin, salah satu spesies rorqual terbesar. Panjang paus bungkuk dewasa sebesar 12-16 meter dan memiliki berat 36.000 kilogram. Paus bungkuk memiliki bentuk tubuh yang istimewa, dengan sirip dada panjang dan kepala menonjol.

Hewan ini adalah hewan akrobatik, sering muncul di permukaan air. Bahkan paus jantan dapat mengeluarkan suara berupa lagu yang terdengar selama 10 sampai 20 menit dan diulang untuk beberapa jam pada satu waktu. Peran lagu ini belum diketahui, walaupun sepertinya memiliki peran dalam berpasangan.

TERANCAM PUNAH?

DIKUTIP di Bobo.id, Paus Bungkuk adalah hewan yang memiliki sirip terpanjang, yaitu mencapai 5 meter dan menjadikannya sebagai mamalia laut dengan sirip terpanjang di dunia. Sayangnya, populasi paus bungkuk sempat menyusut dan menjadikannya sebagai hewan laut yang terancam punah.

Siripnya yang panjang ini memberikan paus bungkuk beberapa keistimewaan, yaitu paus bungkuk bisa berhenti, berenang mundur, dan melompat keluar air. Tidak hanya sirip depannya saja yang istimewa, karena sirip belakangnya yang berbentuk seperti bulan sabit ini juga istimewa.

Sirip belakang paus bungkuk berlekuk tajam di bagian tengah dan memanjang di bagian samping, yang digunakan untuk memberikan paus daya dorong ke depan. Saat paus bungkuk berenang, maka ia akan menggerakkan sirip ekornya ke atas dan ke bawah. Bahkan dengan bantuan sirip ekornya ini, paus bungkuk bisa berenang dengan kecepatan maksimal 27 kilometer per jam.

Sempat terancam punah juga terjadi pada paus bungkuk Australia. Tapi populasi paus bungkuk Australia telah pulih dari statusnya yang terancam punah akibat tidak adanya perburuan liar yang dilakukan.

Sayangnya, penelitian terbaru yang dilakukan University of Queensland, Australia menyebutkan kalau populasi mamalia laut ini akan menurun lagi dalam waktu dekat. Penelitian ini dilakukan selama 12 tahun dengan memantau paus bungkuk yang bermigrasi melewati Pulau Stradbroke Utara, di lepas pantai Brisbane dan di pantai selatan Queensland.

Dari pemantauan yang dilakukan, salah seorang peneliti, Profesor Michael Noad mengatakan kalau populasi spesies paus bungkuk Australia sudah pulih dengan cepat. Hal ini diakibatkan karena perburuan liar pada paus bungkuk Australia dihentikan sejak tahun 1962. Populasinya pun mengalami kenaikan rata-rata 10,9 persen per tahunnya.

Pada tahun 1960-an, jumlah paus bungkuk Australia sangat rendah, bahkan hampir punah karena maraknya perburuan liar. Tapi sejak survei pada hewan ini dilakukan, jumlah paus bungkuk Australia berlipat ganda setiap tujuh tahun sekali atau lebih.

Survei terakhir yang dilakukan pada tahun 2015 menemukan kalau populasi paus bungkuk sebenarnya sudah pulih. Menurut perkiraan para peneliti, populasi paus bungkuk saat ini sudah kembali ke angka sebelum perburuan paus dimulai pada tahun 1950-an, yaitu mencapai sekitar 25.000 ekor paus.

Walaupun jumlah paus bungkuk Australia sempat membaik, sekarang para ilmuwan mengumumkan kalau jumlah ini akan kembali menyusut dalam waktu dekat. Para peneliti khawatir akan hal-hal yang bisa terjadi di masa depan dan khawatir populasi paus bungkuk Australia saat ini melebihi daya dukung lingkungan.

Artinya, kemungkinan lingkungan lautan tidak bisa mendukung jumlah paus bungkuk yang ada saat ini, sehingga peningkatan populasi hewan ini nantinya akan diikuti dengan penurunan dalam waktu cepat juga.

Salah satu faktor yang menjadikan lautan tidak lagi mendukung peningkatan populasi paus bungkuk adalah karena terjadinya perubahan iklim yang berdampak pada lautan.

Paus bungkuk menjadikan kriil, yaitu krustasea kecil yang mengonsumsi ganggang sebagai makanannya. Sehingga para ilmuwan memperkirakan kalau paus-paus tersebut kemungkinan akan kehabisan makanannya, yaitu kriil di Antartika pada 2021 hingga 2026 mendatang

Sementara data yang dikumpulkan oleh para ilmuwan, peron di Point Lookout di North Sradbroke Island, Kota Brisbane, jika populasi paus berkurang secara drastis, maka akan ada beberapa hal yang harus dihadapi Australia, terutama di Queensland.

Karena nantinya hanya akan ada sedikit jumlah paus bungkuk yang ada di lautan, maka kemungkinan akan membuat paus-paus tersebut kesulitan bertahan hidup. Anak paus bisa saja berada dalam kondisi sakit dan bisa berdampak pada pengamatan paus yang menjadi objek wisata di Australia. (bay/bobo/int)

Berikan Tanggapanmu