RUBAH SISTEM : Tim Saber Pungli Kukar dipimpin Kompol Wiwit Adisatria saat berkunjung ke Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Banyuwangi. (ist)

Ketika Tim Saber Pungli Studi Banding ke Banyuwangi

ONENEWS, KUKAR – Sebanyak apapun melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT), tak akan menjamin seseorang berhenti untuk mengulanginya lagi. Hal itulah diungkapkan Ketua Satuan Tugas (Satgas) Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kompol Wiwit Adisatria kepada harian ini.

“Kalau pola pemikiran kita seperti itu, maka sebanyak apapun OTT yang kita laksanakan, tidak cukup memberikan efek jera kepada para pelaku pungli. Contoh beberapa kali kena tilang, tetap saja cenderung mengulang,” ucap Wiwit.

Untuk itu, Tim Saber Pungli Kukar akan terus berusaha untuk merubah sistem tersebut, salah satunya dengan melakukan studi banding ke Kabupaten Banyuwangi, di Jawa Timur (Jatim).

“Disana (Banyuwangi,Red) kita melihat konsep. Karena sistem saber pungli dan prestasi mereka sangat luar biasa,” jelas Wiwit.Sebenarnya ada dua daerah yang menjadi sasaran dalam studi banding ini, yakni Kota Surabaya dan Banyuwangi. Kedua daerah tersebut sudah berhasil meraih prestasi hingga level internasional. Tapi alasan memilih Banyuwangi, terang Wiwit, karena struktur dan tingkatannya sama dengan Kukar.

“Kalau Surabaya kan kota besar, kalau Banyuwangi sama-sama kabupaten dengan Kukar,” ujar Wakapolres Kukar ini.

Hal yang menarik saat berkunjung ke Banyuwangi ialah adanya Mall Pelayanan Publik (MPP). Dalam mall yang dibuat bekas gedung lama tersebut, masyarakat bisa mengurus segala kebutuhan maupun keperluan surat menyurat mulai lahir hingga meninggal.

“Iya di mall itu masyarakat bisa mengurus Akta, KTP, SIM, Pajak dan lain sebagainya. Jadi semua pelayanan publik pemerintah dan swasta, semua ada disitu,” kata Wiwit.

Tujuannya dibuat mall itu oleh pemerintah Banyuwangi yakni untuk menutup celah pelaku pungli.

“Tidak ada celah untuk melakukan pungli disana. Untuk setiap ruang pelayanan tidak ada yang bersekat-sekat, semua ruangan terbuka saling berhadapan dan bersampingan,” ucapnya.

“Apalagi di mall itu juga ada loket Bank Jatim. Jadi siapapun yang ingin melakukan pungli, pasti malu,” tambah Wiwit.

Selain itu, para karyawan yang bertugas di mall itu juga diberikan tunjangan jabatan tiga kali lipat sesuai dengan golongannya. Hal itu dilakukan agar para karyawan yang bertugas, tidak melakukan pungli kepada masyarakat maupun investor.

“Itulah mengapa investor merasa aman berinvestasi di Banyuwangi,” ucapnya.

Sehingga singgung Wiwit, untuk membangun sistem seperti itu, diperlukan juga semangat yang kuat dari pemerintahnya. Bahkan diharapkan, mall yang ada seperti di Banyuwangi juga ada di Kukar.

“Sistem seperti itu yang harusnya dilakukan disini (Kukar,Red),” ungkapnya.Ia juga melihat, sejumlah event nasional hingga internasional di Banyuwangi mendapat dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Bahkan dana pelaksanaan event tersebut sebagian berasal dari hasil swadaya masyarakat.

“Disana selama satu tahun ada 129 event dan itu dilaksanakan oleh seluruh OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Untuk pelaksanaan event itu dukungan anggaran hanya separuh dari pemerintah, sisanya dari swadaya masyarakat,” tuturnya.

Harusnya, lanjut Wiwit, hal itu juga bisa dilakukan dalam event internasional yang ada di Kukar yakni Erau. Bagaimana Satgas Saber Pungli, pemerintah serta masyarakat bisa bersama-sama berpartisipasi tanpa khawatir adanya pungli.

“Sekarang ini bagaimana konsep swadaya itu bisa dilakukan disini dan tidak dianggap sebagai pungli. Masyarakat disana dengan ikhlas dan mempercayakannya kepada panitia, tanpa berfikiran negatif,” ucapnya.

Untuk diketahui, Tim Saber Pungli Kukar yang berkunjung ke Banyuwangi terdiri dari kepolisian, kejaksaan, pemerintah, TNI, dan lain sebagainya. Dalam kunjungan itu, tim disambut langsung Kepala Satgas UPP Banyuwangi, Kompol Adi Yudha Pranata. (bay)

Berikan Tanggapanmu