BUKTI PENGABDIAN : Heldawati (kiri) guru di SD Swasta Muara Pegah terus mengabdi agar anak-anak di Dusun Muara Pegah tetap mau untuk melanjutkan sekolah. (Photo : Bayu/1News)

Pengabdian Guru di SD Swasta Muara Pegah

ONENEWS, KUKAR – Guru adalah ujung tombak generasi tunas bangsa, gurulah yang pertama mengukir akan dijadikan apa generasi muda ini. Hal itulah yang membuat Heldawati terus semangat memberikan motivasi kepada anak-anak didiknya di Sekolah Dasar (SD) Swasta Muara Pegah, Desa Muara Kembang, Kecamatan Muara Jawa, Kutai Kartanegara (Kukar).

Meski penghasilannya tak sebesar yang dibayangkan. Wanita berusia 25 tahun ini berharap anak didiknya tetap terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.

“ Saya mengajar disini (SD Muara Pegah,Red) sejak 2012 hingga sekarang. Saya ingin terus memotivasi anak-anak agar jangan sampai putus sekolah. Karena disini (Muara Pegah,Red), habis lulus SD, kebanyakan tidak mau sekolah lagi,” ungkap Helda, akrab disapa saat ditemui sejumlah wartawan, Kamis (3/10/2019) kemarin.

Saat ini, dirinya bersama tujuh guru serta kepala sekolah berstatus honorer. Pasalnya, SD tempatnya mengajar masih berstatus swasta.

“ Maunya jadi PNS mas, tapi status sekolah masih swasta, belum di negerikan,” jelas ibu satu anak ini.Ia mengungkapkan, menjadi guru di SD Muara Pegah, dirinya hanya mendapat bayaran Rp 10 ribu perhari atau sekitar Rp 270 ribu perbulan. Gaji itu berasal dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) Dinas Pendidikan (Disdik) Kukar.

“ Semua murid disini sekolah gratis, tidak ada bayaran. Jadi gaji itu berasal dari BOS dan kami terima sekitar 3 bulan sekali,” ucap Helda.

Dengan penghasilan sebesar itu, Helda mengaku sama sekali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama keluarga.

“ Ya untuk diri sendiri saja nggak cukup mas. Untungnya suami saya nelayan, jadi kadang kalau ada hasil dari laut, ada tambahan buat di rumah. Tapi kalau nggak melaut, ya nggak ada,” beber lulusan SD Muara Pegah tahun 2005 ini.

Sehingga apa yang dilakukan Helda bisa dikatakan murni pengabdian.

“ Saya mantan siswa SD disini juga, dan ada satu teman saya lagi namanya Yanti. Setelah lulus disini, saya melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di Handil, Muara Jawa,” urainya.

Tamat SMA, Helda mencari pekerjaan. Ketika satu tahun menganggur, ia mendapat tawaran untuk mengajar di SD Muara Pegah.

“ Sekarang saya masih kuliah semester 9 di Muara Jawa. Jadi sambil kuliah, sambil mengajar, juga sambil mengurus rumah tangga,” tambah guru Matematika ini.

Sementara itu, Ketua RT 11 Sudirman mengatakan, bangunan gedung SD Muara Pegah ini merupakan bantuan dari perusahaan. Sebelum ada sekolah, banyak anak-anak di Dusun Muara Pegah yang tidak bersekolah.

“ Dulu anak-anak nggak ada yang sekolah, hanya belajar di rumah dengan guru dan buku kiriman perusahaan. Tapi setelah dibangunkan sekolah oleh perusahaan, sekarang anak-anak bisa bersekolah,” terangnya.

Untuk diketahui, SD Swasta Muara Pegah ini berdiri sejak tahun 1996. Saat ini sudah terdapat 40 lebih siswa siswi yang belajar gratis, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Sementara 8 pengajar di SD tersebut, sebagian bukan warga setempat.

Sehingga untuk kegiatan ngajar-mengajar di pulau itu, para guru dibantu menyeberangi lautan menggunakan Seatruk milik PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) dengan jarak tempuh 30 menit setiap harinya. (bay)

Berikan Tanggapanmu