Photo : Pradarma Rupang (int)

1News.id, SAMARINDA – Tewasnya seorang pekerja tambang batu bara PT Buma Lati, Minggu (28/7/2019) lalu menjadi bukti bahwa aspek keselamatan kerja di PT Berau Coal masih lemah. Hal itu diungkapkan Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kalimantan Timur, Pradarma Rupang. Apalagi setahu dia, PT Berau Coal mengklaim sebagai perusahaan yang mempertimbangkan aspek keselamatan kerja.

“ Faktanya apa? ada pekerja yang tewas dan ini bukti bagaimana lemahnya aspek tersebut. Berau Coal telah abaikan aspek keselamatan pekerja. Padahal selama ini, perusahaan itu menyatakan telah menerapkan sistem keselamatan kerja yang sangat tinggi,” cetus Rupang kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Tentu saja, Rupang sangat menyayangkan dengan adanya insiden ini. Mewakili Jatam Kaltim, Rupang juga mengucapkan turut berduka atas meninggalnya seorang pekerja PT Buma Lati ini.

“ Kami berkabung. Ini menunjukkan bahwa hingga hari ini, lagi-lagi tidak hanya masyarakat saja, tapi buruh juga menjadi korban dari aktifitas batu bara,” ucapnya.

Sehingga harapnya, Kementerian ESDM RI dan Provinsi Kaltim harus mengecek ulang sistem keselamatan kerja PT Berau Coal. Bahkan, Jatam Kaltim juga akan mengecek secara langsung bagaimana proses itu dilapangan.

“ Tapi ini menjadi warning. Bahwa sebenarnya sering kali perusahaan-perusahaan hanya mengejar profit (hasil,Red) dan mengabaikan aspek penting yaitu keselamatan para pekerja,” singgung Rupang, lagi.

Kecelakaan kerja terjadi di lokasi tempat PT Buma Lati produksi. Namun jelas Rupang, PT Buma Lati hanya mendapat Surat Perintah Kerja (SPK) selaku kontraktor untuk melakukan penambangan dari PT Berau Coal sebagai pemegang izin.

Tapi lanjutnya, PT Berau Coal tidak bisa lepas tangan, meskipun itu pekerjaan PT Buma. Yang mana sesuai undang-undang, penerima izin wajib menjaga konsesinya, termasuk memastikan sistem keselamatan kerja.

“ Itu semua berada dibawah bendera dia (Berau Coal,Red), karena dia yang menerapkan dan itu berlaku kepada kontraktor-kontraktor juga. Karena yang diminta pertanggungjawaban bukan kontraktor, tapi penerima izin, dalam hal ini Berau Coal,” katanya.

Pengawasan Tetap Provinsi Meski Izinnya Pusat

SEBELUMNYA, Kepala ESDM Kaltim Ir. H. Wahyu Widhi Heranata mengatakan kalau permasalahan ini bukan urusan daerah, melainkan kewenangan pusat yakni Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI). Menanggapi jawaban tersebut, Rupang menegaskan kalau pengawasan tersebut juga merupakan tanggung jawab provinsi.

“ Memang pusat yang memberikan izin, tapi pengawasan tetap dari provinsi. Karena sudah ada beberapa pengawas-pengawas yang di supervisikan ke daerah,” bebernya.

“ Artinya daerah juga berkepentingan untuk memastikan keselamatan masyarakatnya. Paling tidak ada efek perubahan dalam sanksi, bukan lagi administratif saja,” tutur Rupang.

Untuk itu, kata Rupang, Kementerian maupun provinsi harus melakukan inspeksi lebih jauh. Jangan ada aktifitas produksi dulu sebelum inspeksi terkait pelanggaran itu ditemukan dan apa penyebabnya.

“ Mereka nggak bisa lepas tanggung jawab. Kita (Jatam Kaltim,Red) mendesak kepada Pemprov Kaltim untuk segera melakukan inspeksi, khususnya untuk mengenai kematian pekerja ini. Kita menuntut aktifitas Berau Coal dihentikan, sampai diketahui penyebab kejadian ini,” ucapnya.

Siap Berikan Hak dan Santunan Kepada Keluarga Najib

PT Berau Coal melalui PT Buma Lati siap memberikan hak dan santunan kepada keluarga Ahmad Najib Khoeroni (28) karyawan yang tewas tertimbun longsor. Itu dikemukakan Superintendent External Buma Lati, Rochmad Wahyudi dalam press releasenya kepada awak media.

“ Sedang dalam proses dan hak-haknya akan diberikan sebagaimana mestinya. Pihak keluarga juga bisa menerima dan tidak ada masalah,” kata Rochmad.

Ia mengatakan, dunia tambang kembali menghadapi cobaan di bidang keselamatan kerja. Bahkan upaya proses penyelamatan dan evakuasi telah dilakukan oleh tim Emergency Response Group (ERG) saat kejadian. Namun sayang, Najib tidak berhasil diselamatkan dan meninggal saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Abdul Rivai Tanjung Redeb, Berau,

Tak hanya itu, mengenai kecelakaan ini telah dilaporkan kepada Kepala Inspektur Tambang (KAIT) setelah kejadian.  Investigasi mendalam  bersama – sama tim Inspektur Tambang segera dilakukan untuk mengetahui penyebab kecelakaan tersebut.

Ia juga mengungkapkan, operasional tambang batu bara memiliki tingkat risiko kerja yang tinggi. Untuk itu semua pekerja harus memiliki kompetensi keselamatan yang tinggi dan bekerja sesuai dengan standar operasional keselamatan yang ketat.

Para pekerja yang terlibat dalam operasional tambang perlu bekerja lebih keras lagi dalam upaya perbaikan berkelanjutan di bidang keselamatan kerja dan selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam bekerja di area masing-masing.

“ Manajemen dan seluruh pekerja berduka atas kecelakaan kerja ini. Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi keikhlasan dan ketabahan menghadapi musibah ini,” ucap Rochmad. (bay)

Berikan Tanggapanmu