KENA TANGKAP : Kanit Reskrim Polsek Tenggarong Ipda Hadi Winarno saat meminta keterangan AS, pedagang pentol di Tenggarong yang menganiaya istrinya. (Photo : Bayu/1News)

ONENEWS, KUKAR – Melakukan tindak kekerasan tentu melanggar aturan hukum yang berlaku. Apalagi tindakan tersebut tidak disertai dengan bukti yang kuat. Seperti halnya yang dilakukan AS (37). Karena sakit hati, pria yang tinggal di Jalan Mayjen Panjaitan, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ini nekat menganiaya istrinya sendiri berinisial NA (38).

Penganiayaan tersebut dilakukan AS dengan cara menendang tangan NA. Akibatnya, tulang tangan NA sebelah kiri mengalami retak dan harus mendapat perawatan intensif di RSUD AM Parikesit Tenggarong Seberang alias opname.

Saat ditemui, Kapolsek Tenggarong Iptu Triyadi, didampingi Kanit Reskrim Ipda Hadi Winarno membenarkan kejadian ini. Ia mengatakan, kasus penganiayaan ini terjadi pada, Sabtu (17/8/2019) lalu di Jalan Selendreng, Tenggarong atau dirumah sepupu NA.

“ Jadi pelaku menganiaya dengan menendang menggunakan kedua kakinya ke bagian perut, dada serta tangan korban berulang kali. Sampai akhirnya korban harus dibawa ke rumah sakit untuk dirawat,” jelas Hadi kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Sementara AS diamankan saat berada di rumah sakit Minggu lalu. Dari pengakuan AS, penganiayaan ini dikarenakan sakit hati lantaran NA diduga memiliki pria idaman lain (PIL) dan berbadan dua alias hamil.

“ Ngakunya karena sakit hati. Karena sebelum penganiayaan terjadi, pelaku sempat meminta korban untuk menggunakan tespek. Hasilnya saat itu ada garis dua tapi kabur, jadi belum bisa dipastikan apakah benar hamil atau tidak,” ujar Hadi.

Mungkin karena sudah terbakar cemburu, AS langsung menendang NA dengan membabi-buta. Padahal terang Hadi, harusnya AS mencari bukti dulu baru bertindak.

“ Siapa sih yang nggak marah kalau diselingkuhin. Tapi alangkah baiknya dibuktikan dulu sebelum melakukan kekerasan. Itulah salahnya pelaku,” tuturnya.

Akibat penganiayaan ini, AS harus mendekam di sel Mapolsek Tenggarong guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. AS dijerat dengan Pasal 44 ayat 1 dan 2 UURI Nomor 23 tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“ Saya sudah nikah dengan dia (NA,Red) selama 12 tahun. Selama bersama dia, saya dikaruniai satu anak dan ditambah dua anak bawaan dari dia,” kata AS kepada pewarta beberapa waktu lalu.

Belakangan ini, ucap AS, istrinya ini sering meninggalkan dia. Bahkan dua bulan terakhir, NA tak kunjung pulang ke rumah.

“ Waktu dia pulang saya tanya dari mana, dia nggak mau jawab sampai sekarang. Jadi saya bertanya-tanya ada apa dan kemana aja,” ungkapnya.

Karuan saja, kecurigaan tersebut akhirnya ingin dibuktikan AS dengan membeli tespek di apotik. Kemudian AS meminta NA untuk mencoba tespek tersebut.

“ Pagi-pagi saya minta dia coba tespek itu, dan ternyata ada garis duanya tapi kabur. Tapi saya langsung sakit hati, karena dua bulan dia tidak ada dirumah dan dia hamil dengan siapa,” jelas pedagang pentol di Tenggarong ini.

Namun ia mengakui sebelum NA pergi dari rumah, dirinya sempat menggauli istrinya tersebut sekitar 3 bulan lalu sebanyak satu kali. Tapi karena rasa sakit hati tersebut, dirinya tak bisa berfikir panjang lagi.

“ Saya seperti kerasukan hantu mas. Tahu-tahu saya langsung tendang saja dia pas lagi duduk dirumah sepupunya. Saya mengaku salah dan saya khilaf karena tidak mencari bukti dulu,” akunya. (bay)

Berikan Tanggapanmu