BERUBAH FUNGSI : Akibat banjir yang menenggelamkan ratusan hektare areal persawahan di Desa Karang Tunggal hampir dua pekan lamanya, sejumlah masyarakat dan petani beralih mencari ikan dan keong, Rabu (19/6/2019) kemarin. (Photo : Bayu/1News)

1News.id, Kutai Kartanegara  Banjir yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada minggu lalu masih berdampak ke sejumlah persawahan milik kelompok tani hingga saat ini. Seperti di Desa Karang Tunggal, terdapat 170 hektare (Ha) sawah masih terendam banjir dan tidak dapat digunakan.

Karena belum dapat menanam padi. Areal persawahan tersebut malah digunakan sejumlah masyarakat dan petani untuk mencari ikan dan keong untuk makan sehari-hari.

“ Di Desa Karang Tunggal ada 270 hektare sawah dan hampir semuanya tenggelam. Yang tersisa hanya di Blok C dan B saja, sedangkan 170 hektare di Blok A dan B terendam semua sampai sekarang,” ucap Ketua Kelompok Tani Sidomulyo, Suparti kepada awak media, Rabu (19/6/2019) kemarin.

Tentunya, ungkap Suparti, banjir yang menenggelamkan persawahan ini sangat mengganggu sekali. Apalagi dirinya bersama petani yang lain, baru saja menanam bibit dan semuanya hilang.

“ Kerugiannya banyak sekali, hilang semua kok. Aturannya sudah tinggal menunggu saja, karena tinggal perawatan dan sekarang habis semua. Ya hitung-hitung mulai dari ongkos tanam sampai ongkos traktor, biaya yang kami keluarkan sekitar Rp 3 juta per hektare-nya,” urainya.

Biasanya terang dia, apabila hujan deras, air yang menggenangi sawah hanya 2-3 hari sudah surut. Tapi ini sudah hampir selama dua pekan sejak minggu lalu. Karena sejumlah masyarakat mengatakan, hal ini disebabkan hilangnya penampungan air akibat dibuatnya jalan tambang batubara yang dekat dengan areal persawahan, ditambah hujan deras dimana-mana.

“ Dimana-mana hujan, terus disini tempat penampungan air sudah nggak ada. Apalagi banyak tambang batubara liar, jadi hutan-hutan sudah gundul semua. Akhirnya imbasnya ke sawah-sawah ini, habis semua,” cetus Suparti.

Akibat banjir ini, produksi pertanian di Desa Karang Tunggal mengalami penurunan atau anjlok sama sekali. Untuk itu mewakili Kelompok Tani, Suparti berharap Pemerintah Kukar terutama pemerintah desa setempat agar membuatkan saluran air supaya hal ini tidak terulang lagi.

“ Untuk sekarang saluran air disini belum maksimal. Terus adanya limbah dari batubara, tanahnya larut dan mengakibatkan tempat penampungan airnya semakin dangkal. Tadinya waktu belum ada batubara, kalau cuma hujan saja cepat surut, sekarang tidak,” terangnya, lagi.

Tak hanya petani, imbas dari banjirnya persawahan dan perkebunan milik petani juga dirasakan para penjual sayuran dipinggiran Jalan Poros Samarinda – Sebulu. Kepada pewarta, Sakir, penjual sayur mengatakan, harga sayuran mengalami peningkatan dari biasanya. Bahkan mencapai tiga kali lipatnya.

“ Harga terong biasanya Rp 2- Rp 3 ribu, sekarang Rp 8 ribu dari petaninya. Sama seperti timun dan kacang panjang, hanya cabe saja yang murah,” katanya.

“ Bahkan harga kacang panjang lebih mahal dari terong, dari petani saja sudah 8 ribu, dan harga jualnya Rp 10 sampai 12 ribu per kilogramnya. Ini semua karena kebanjiran tadi, banyak sayuran yang gagal panen, jadi naik semua harganya,” jelas Sakir. (bay)

Berikan Tanggapanmu