Photo : Yunus Nusi (1News)

1News.id, SAMARINDA – Kompetisi Festival Sepakbola (KFS) Usia Dini se-Kalimantan akan berlangsung minggu depan, yakni 4-7 Juli 2019mendatang di Stadion Madya Aji Imbut, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim). Setidaknya hingga saat ini, sudah terdapat 60 peserta yang siap berlaga memperebutkan piala DFC Grub Cup III tahun 2019.

“ Pendaftaran kami tutup tanggal 30 Juni atau tiga hari lagi,” terang Pembina DFC Grub, Andi Indra, Kamis (27/6/2019) pagi.

Tentu saja, terlaksananya KFS ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari sejumlah kalangan, salah satunya Ketua Asosiasi Provinsi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Asprov PSSI) Kaltim, Yunus Nusi.

“ Kami (Asprov PSSI Kaltim,Red) sangat apresiatif atau senang apabila ada lembaga-lembaga yang melaksanakan turnamen seperti ini,” ucap Yunus kepada 1News.id, Rabu (26/6/2019) malam.

Dia menerangkan, kompetisi seperti ini sangat sulit untuk dijangkau oleh Asprov PSSI Kaltim. Pasalnya, Asprov sendiri sudah menangani sejumlah kompetisi lain, seperti Liga 3, U-15, U-17, termasuk Piala Pertiwi.

“ Makanya dengan adanya KFS ini, kami sangat berterimakasih. Saya harapkan rutin digelar,” pinta Yunus.

Meski hanya berbentuk festival, tapi ini juga kompetisi. Karena singgung Yunus, sehebat apapun anak-anak dilatih, apabila tidak ada bertanding, maka tidak ada gunanya.

“ Ibarat pisau, kalau tidak di asah atau hanya ditaruh di kamar saja, maka tidak akan kelihatan tumpul atau tajamnya sampai mana,” cetusnya.

Yunus juga mengungkapkan, kompetisi seperti ini sangat jarang dilaksanakan. Sehingga sampai saat ini Kaltim masih kalah dengan jawa.

“ Disitulah kekurangan kita. Sebenarnya anak-anak di Kaltim itu banyak yang hebat. Tapi karena minimnya jumlah pertandingan, maka saat dia (anak-anak,Red) ketika bermain keluar, lebih banyak dikalahkan oleh jawa,” bebernya.

Memang, lanjutnya, historis geografis di Kaltim-lah yang menjadi penyebabnya. Karena di Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim), sudah sering menggelar festival, bahkan hampir setiap bulan.

“ Misalnya Samkotnya Surabaya. Dimana-mana mereka bertanding terus,” katanya.

“ Nah itu tadi. Sehebat apapun teori yang digunakan pelatih, tapi kalau jarang kompetisi, ya buat apa. Makanya saya sangat berharap, kompetisi seperti ini kalau bisa banyak diadakan, biar terlihat peningkatan anak-anak,” singgungnya, lagi.

Seperti Tim Nasional (Timnas) U-15,U-16, dan U-19, banding Yunus, disaat junior merupakan tim bagus, tapi ketika sudah senior, saat melawan Myanmar saja sudah kedodoran.

“ Tapi kalau di U-15,U-16 dan U-19, itu anak-anak Indonesia sudah bagus. Nah sudah selanjutnya dia kalah, karena kurangnya jumlah bertanding dan lain-lain,” tuturnya.

Untuk itu, sekali lagi Yunus mengharapkan, KFS ini bisa berjalan sukses dan bisa rutin dilaksanakan.

“ Kalau bisa, teman-teman di Kukar, khususnya Askab (Asosiasi Kabupaten) untuk mendata pemain-pemain bagus di Kukar. Dan itu bisa menjadi bank pemain teman-teman Askab dan PSSI Kukar,” ujarnya. (bay)

Berikan Tanggapanmu