GELAR SOSIALISASI : Kepala Biro (Kabiro) Perekonomian Setdaprov Kaltim, H Nazril bersama sejumlah narasumber dalam sosialisasi dan konsultasi FPIC atau Padiatapa di Hotel Selyca Samarinda, Selasa (14/5/2019) kemarin. (Photo : Yovie/1News)

1News.id, SAMARINDA – Adanya program Reduction of Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD) di Kalimantan Timur (Kaltim) mendapat respon positif dari sejumlah kalangan masyarakat. Karena dengan adanya program ini, masyarakat merasa ada yang mendukung untuk menjaga kelestarian hutan yang ada di Kaltim.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa (Kades) Muara Siran, Hairil dalam kegiatan Sosialisasi dan Konsultasi Kegiatan Free, Prior and Informed Consent (FPIC) atau Padiatapa (Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan) Kampung Iklim dalam program Forest Carbon Partnership Facilities  Carbon Find(FCPF-CF) tingkat Provinsi bersama masyarakat desa serta adat Kaltim di Hotel Selyca Samarinda, Selasa (14/5/2019) pagi kemarin.

“ Kami senang dengan program REDD ada di Kalimantan Timur, karena kami merasa ada yang mendukung kami. Program ini sejalan dengan keinginan kami sebagai masyarakat di Desa Muara Siran untuk tetap menjaga hutan dan lahan kami,” katanya.

Karena tegasnya, ada atau tidak adanya uang, masyarakat di Desa Muara Siran tetap berkomitmen menjaga hutan agar tetap lestari untuk kehidupan masa kini dan warisan anak cucu.

“ Saya mungkin satu-satunya Kepala Desa di Kecamatan Muara Kaman yang menolak masuknya program sawit di desa. Karena jika membuka lahan untuk perkebunan, maka keuntungannya tidak akan bertahan,” terang Hairil.

Sekedar diketahui, program REDD adalah sebuah mekanisme pengurangan deforestasi (penghilangan hutan alam) dan pengrusakan hutan dengan maksud mengurangi emisi dari deforestasi dan kerusakan hutan tersebut.

Kemudian FPIC adalah hak masyarakat adat untuk mengatakan “ya, dan bagaimana” atau “tidak” untuk pembangunan yang mempengaruhi sumber daya dan wilayah mereka. Hal ini berbasis pada hukum internasional dan hukum nasional di beberapa negara.

Sementara mengenai FCPF atau Fasilitas Kemitraan Karbon Hutan adalah kemitraan global pemerintah, bisnis, masyarakat sipil, dan masyarakat adat yang berfokus pada pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, konservasi stok karbon hutan, pengelolaan berkelanjutan hutan. FCPF ini sendiri sudah beroperasi sejak Juni 2008 silam.

Dengan terpilihnya Kaltim menjadi lokasi implementasi program REDD melalui kerangka program FCPF CF tahun 2020-2024 ini, Kepala Biro (Kabiro) Perekonomian Setdaprov Kaltim, H Nazril mengatakan prasyarat agar program ini bisa berjalan harus adanya ungkapan ‘ada masyarakat ada REDD’ dan ‘tidak ada masyarakat maka tidak ada REDD’.

“ Masyarakat di awal program harus mendapatkan informasi dan bebas untuk menentukan pilihan apakah akan terlibat dalam program ini atau tidak,” ucap Nazril.

Kemudian, sosialisasi ini merupakan kesempatan pertama yang digelar untuk memperkenalkan proses FPIC (Padiatapa) sebagai salah satu prasyarat sekaligus etika sosial terlibatnya masyarakat desa serta adat dalam pelaksanaan program FCPF-CF di Kaltim.

“ Hutan dan lahan sangat berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat yang hidup di dalam atau disekitarnya, sehingga hak mutlak masyarakat harus terlibat,” kata Akhmad Wijaya, selaku narasumber dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini sejak 14-15 Mei 2019.

Dilibatkannya masyarakat dalam program REDD ini, sebagai bentuk penghormatan atas hak-hak masyarakat yang sesuai dengan kerangka hukum nasional serta mandat hukum dan perjanjian internasional. Keterlibatan masyarakat ini, merupakan pendekatan yang paling efisien dan kunci keberhasilan program REDD.

Rencananya, kegiatan ini akan dilakukan di 150 desa di Kaltim. Hal ini bertujuan untuk mendukung pelaksanaan program penurunan emisi FCPF-CF. Sehingga untuk memenuhi persyaratan dan tahapan proses yang partisipatif, diperlukan pernyataan persetujuan secara sukarela dan bebas dalam waktu yang cukup dari 150 desa atau kampung yang terpilih untuk terlibat dalam program penurunan emisi FCPF-CF. (*Vie)

Berikan Tanggapanmu