OTAK CABUL : Dwi Purnomo alias Ipur, seorang penjaga langgar atau mushola saat diamankan Unit Reskrim Polsek Anggana karena mencabuli bocah berusia 5 tahun. (ist)

1News.id, KUTAI KARTANEGARA – Bukannya menjadi panutan, malah melakukan hal yang tidak sepantasnya. Itulah yang dilakukan Dwi Purnomo alias Ipur (37) warga Jalan Bhayangkara RT 10, Desa Sungai Meriam, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Dia ditangkap Unit Reskrim Polsek Anggana karena tega mencabuli seorang bocah berusia 5 tahun, sebut saja Mentari.

“ Saat ini pelaku sudah kami amankan dan kami titip di sel Mapolres Kukar,” kata Kapolres Kukar AKBP Anwar Haidar, didampingi Kapolsek Anggana AKP Tri Satria Firdaus kepada harian ini, Selasa (16/4/2019) kemarin.

Pencabulan yang dilakukan Ipur terjadi, Selasa (9/4/2019) lalu sekitar pukul 19.30 Wita disebuah langgar atau mushola di Jalan Bhayangkara. Sementara terungkapnya kasus ini berawal saat Mentari pulang ke rumah sambil menangis usai pulang mengaji.

“ Jadi melihat anaknya nangis, orang tuanya langsung bertanya ada apa? Tapi korban diam saja. Kemudian kakaknya korban yang kebetulan sama-sama mengaji langsung mengatakan kalau kemaluan korban telah dipegang oleh pelaku,” jelas Firdaus.

Karuan saja, orang tua Mentari tak terima dan memanggil sejumlah warga dan Ketua RT setempat beserta Ipur. Saat bertemu, orang tua Mentari langsung bertannya apakah Ipur benar melakukan hal tidak senonoh itu kepada Mentari. Kemudian oleh Ipur dijawab benar.

“ Jadi pelaku mengakuinya dan itu hanya sekali. Pelaku melakukannya usai sholat maghrib dilanggar dengan cara menurunkan celana korban dan memegang kemaluannya. Tapi karena saat itu korban sudah dipanggil sama teman dan saudaranya, pelaku bergegas memasang celana dan langsung pergi,” urai Kapolsek.

Akibat perbuatannya, pria yang bertugas sebagai penjaga di langgar tersebut harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi. Dalam kasus ini, Ipur dijerat dengan Pasal 82 ayat (1) Jo Pasal 76E UURI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UURI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

“ Untuk barang bukti, kami amankan pakaian korban,” tandasnya. (bay) 

Berikan Tanggapanmu