Photo : Ketua DPRD Kukar, Salehuddin S.Fil. (Int)

1News.id, KUTAI KARTANEGARA – Mengetahui ada oknum guru agama di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) yang melakukan tindak asusila terhadap siswi-siswinya. Ketua DPRD Kukar, Salehuddin S.Fil langsung angkat bicara. Dia mengecam seluruh tindak asusila yang telah dilakukan oknum guru tersebut.

“ Kami mengecam tindakan tersebut, apalagi itu terjadi di dunia pendidikan. Bagaimanapun juga, guru adalah contoh hidup ilmu maupun adab bagi muridnya,” kata Salehuddin kepada harian ini, Minggu (24/2/2019) pagi.

Salehuddin berharap, hukum harus ditegakkan dan oknum guru yang melakukan hal tercela ini diberikan hukuman yang sesuai.

“ Tadi saya sudah mendapatkan laporannya dari Camat Kota Bangun terkait hal ini. Kita akan terus mengawal dan mudah-mudahan kasus seperti ini tidak terjadi lagi,” tegasnya.

Kemudian, ucap Salehuddin, DPRD Kukar dalam hal ini meminta peran dan tugas pengawas di bidang pendidikan untuk bisa bekerja maksimal mengawasi para pendidik di Kaltim, khususnya di Kukar.

“ Saya tidak ingin ada hal ini lagi. Anak-anak yang sedang mengemban pendidikan harus dijaga, jangan sampai di rusak,” ucapnya, lagi.

Diberitakan sebelumnya, dunia pendidikan kembali tercoreng. Seorang oknum guru agama di salah satu sekolah dasar (SD) negeri di Kecamatan Kota Banguntega mencabuli siswi-siswinya. Mirisnya lagi, aksi tercela itu dilakukannya disaat jam pelajaran sedang berlangsung.

Oknum guru tersebut berinisial Bs (57) warga Desa Kota Bangun 1. Saat ini Bs sudah diamankan, Kamis (21/2/2019) malam lalu dan telah ditetapkan sebagai tersangka di Mapolsek Kota Bangun.

“ Sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Pelaku dijerat dengan pasal perlindungan anak dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun,” kata Kapolres Kukar AKBP Anwar Haidar, didampingi Kapolsek Kota Bangun AKP Subari, melalui Kanit Reskrim Ipda Heri Kuswadi saat ditemui awak media, Sabtu (23/2/2019) siang.

Menurut informasi, Bs diduga telah melakukan pencabulan terhadap 12 siswi kelas 2 SD yang berada dalam satu kelas. Namun saat ini pihak kepolisian baru menerima laporan dari tiga orang tua korban.

“ Yang sembilannya masih saksi. Sementara ini baru tiga korban yang melapor melalui orang tuanya,” terang Heri.

Dari hasil pemeriksaan, Bs mengakui telah melakukan hal itu. Namun dia membantah kalau telah mencabuli sebanyak 12 siswi.

“ Ngakunya sih dua saja, tapi dari keterangan para korban, terdapat 12 siswi yang pernah dicabuli pelaku. Sehingga kasus ini masih kita dalami lebih lanjut,” jelas Kanit, lagi.

Mengenai pencabulan itu memang dilakukan Bs di dalam kelas saat jam pelajaran berlangsung. Bs dengan sengaja memperlihatkan video tak senonoh di depan siswi, kemudian dicabulinya dengan memasukkan tangan ke dalam rok dihadapan siswa siswi lain. Bahkan perbuatan itu telah dilakukan Bs sejak akhir tahun 2018 lalu dan terakhir bulan Februari 2019. (bay)

Berikan Tanggapanmu