AKIBAT MEMBUANG : Kapolsek Tenggarong Seberang Iptu Abdul Rauf didampingi Kanit Reskrim Ipda Hadi Winarno saat menggelar press rilis pengungkapan kasus pembuangan bayi oleh dua mahasiswa di Mapolsek Tenggarong Seberang, Rabu (9/1/2019) pagi. (bayu/1news)

Pasangan Mahasiswa Pembuang Bayi yang Ditangkap Polisi Tenggarong Seberang

1News.id, Kutai Kartanegara – SR (21), ibu pembuang bayi di Desa Loa Lepuh, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada, Minggu (6/1/2019) lalu mengaku malu dan takut ketahuan orang tuanya apabila memiliki bayi dari hasil hubungan gelap.

“ Saya sebenarnya sayang sama anak itu. Tapi karena saya malu dan takut ketahuan oleh orang tua, makanya saya taruh disitu (Desa Loa Lepuh,Red.), biar ada yang mengambil dan merawatnya. Karena saya juga takut kalau langsung kasihkan ke orang, nanti saya dilaporkan ke polisi,” ungkap SR kepada awak media saat press rilis di Mapolsek Tenggarong Seberang, Rabu (9/1/2019) pagi.

Hal senada juga dikatakan SA (20), bapak dari bayi tersebut. Dia mengatakan sayang juga kepada bayi tersebut. Tapi dirinya malu kalau hal tersebut diketahui oleh keluarganya.

“ Kami sayang anak itu. Kami hanya tidak mau sampai keluarga kami yang malu, makanya kami berinisiatif menaruhnya disitu,” aku Mahasiswa semester 3 di salah satu Universitas di Samarinda ini.

Keduanya pun mengakui kalau inisiatif membuang bayi ada ide mereka. Selama mengandung bayi itu, SR yang ijin kuliah mengaku tidak berani pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Kutai Barat (Kubar).

“ Saya hanya di kosan saja, sampai saya melahirkan. Setelah itu kami sama-sama memikirkan mau diapakan bayi ini. Sampai akhirnya kami berdua berinisiatif membuangnya agar ditemukan orang lain untuk dirawat,” jelas SR, lagi.

Dalam press rilis, Kapolsek Tenggarong Seberang Iptu Abdul Rauf didampingi Kanit Reskrim Ipda Hadi Winarno menerangkan, perkenalan antara SA dan SR sudah berlangsung sejak 2015 lalu. Ketika itu keduanya masih bersekolah di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kecamatan Barong Tongkok, Kubar. 

Pertemanan itupun berubah menjadi hubungan serius saat mereka hendak kuliah di Samarinda. Selama tiga tahun berpacaran, keduanya sepakat untuk tinggal di sebuah kosan bebas di Samarinda. Alhasil, akibat sering melakukan hubungan badan layaknya suami istri, SR pun mengandung anak SA. Itu diketahui SR pada bulan Juli 2018 lalu.

“ Setelah sembilan bulan mengandung, akhirnya tanggal 5 Januari 2019 lalu SR melahirkan di salah satu klinik di Jalan PM Noor Samarinda. Ketika itu SA langsung yang mengantarkan SR untuk bersalin,” ucap Rauf kepada awak media.

Usai melahirkan, SR juga sempat mengalami pendarahan dan dibawa ke salah satu rumah sakit di Samarinda. Bahkan sebelum bayi tersebut dibuang, keduanya juga sempat melakukan control dan memberikan vaksin kepada bayi tersebut.

“ Waktu membuang bayinya, keduanya membawa sepeda motor. Awalnya keduanya kebingungan mau diletakkan dimana, bahkan mereka sempat ke jalan menuju arah Bontang. Tapi karena tidak menemukan lokasi yang tepat, keduanya mengarah ke Tenggarong Seberang dan dibuanglah di Desa Loa Lepuh, tepatnya di RT 03,” urai Kapolsek.Saat itu, lanjut Rauf, SR sendiri yang meletakkan darah dagingnya itu ke semak-semak 4 meter dari jalan semenisasi menuju Desa Jongkang, sedangkan SA menunggu di atas sepeda motor. Kemudian keduanya meninggalkan bayi tersebut dan kembali ke kos di Samarinda. Sampai akhirnya, tiga jam setelah dibuang bayi tersebut ditemukan salah seorang warga bernama Empa saat sedang buang air.

“ Untungnya bayinya masih hidup, kalau meninggal bagaimana?. Setelah menerima adanya laporan penemuan bayi itu, saya langsung mengerahkan semua anggota saya, baik yang piket maupun yang lepas dinas untuk mengecek di Samarinda dan Tenggarong, termasuk Tenggarong Seberang sendiri. Alhamdulillah, berkat restu Allah Swt, kedua pelaku kami tangkap di Samarinda. Pertama ibunya (SR,Red.), barulah bapaknya (SA,Red),” tutur Kapolsek.

Saat ini, SA dan SR sudah mendekam di sel Mapolsek Tenggarong Seberang untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Keduanya dikenakan ancaman Pasal 305 KUHP jo 55 KUHP atau pasal 76 B jo pasal 77 B, tentang perlindungan anak, dengan hukuman maksimal 5 tahun penjara.

“ Nanti saya akan menikahi dia (SR,Red.). Bahkan nanti anak itu akan kami rawat setelah kami menjalani masa ini (penjara,Red.). Kami hanya menunggu persetujuan keluarga saja,” tutup SA kepada pewarta. (bay/ono918)

Berikan Tanggapanmu