Sidang Dugaan Penganiayaan Mantan Istri oleh Oknum Dewan Kukar

1News.id, KUTAI KARTANEGARA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Tenggarong, Rabu (30/1/2019) siang kemarin mendatangkan empat saksi dalam kasus dugaan penganiayaan oleh oknum anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) berinisial BU, di Pengadilan Negeri (PN) Tenggarong.

“ Hari ini (Rabu,Red.) kami mendatangkan empat saksi, yakni mantan istri BU, Hariyanti Arif sekaligus korban, anak BU bernama M Aidil Adha, serta dua orang tetangga Hariyanti yang merekam video berinisial Sf dan NS,” kata JPU Edi Setiawan mewakili tim Kejari Tenggarong, yakni Kamin, Agus Wiriyadi dan Agus Adi Prasetyo.

Sidang yang berlangsung terbuka untuk umum tersebut dimulai sejak pukul 15.00 Wita. Sidang tersebut dihadiri terdakwa BU bersama tim kuasa hukumnya, Sakir dan Lina Athar.

Sebelum persidangan dimulai, Hakim Ketua Teopilus Patiung menyampaikan permintaan pihak saksi untuk melaksanakan teleconference di ruang sidang anak selama persidangan. Namun terdakwa BU dan tim hukumnya menolak. BU mengatakan lebih baik mengalah untuk kembali ke dalam ruang tahanan selama para saksi hadir dalam persidangan.

Didampingi dua anggota Hakim yakni Kemas Reynaldi Mei dan Ricco Imam V, Teopilus kemudian memulai sidang dan memanggil Hariyanti untuk memberikan kesaksikan.

“ Hari ini saya ingin meminta kesaksikan ibu,” kata Teopilus.

Hakim ketua langsung bertanya. “Apakah Ibu Hariyanti mengenal BU?”. Kemudian Hariyanti menjawab.” Kenal, dia mantan suami saya,” jawabnya.

Hariyanti pun menerangkan kalau dirinya sudah menikah dengan BU selama 17 tahun dan telah dikaruniai dua anak. Mengenai penganiayaan yang menimpanya itu bukan hanya sekali, tapi sudah sering.

“ Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, tapi sering sewaktu masih suami istri,” bebernya.

Penganiayaan yang menimpa Hariyanti oleh BU ini terjadi 31 Mei 2018 lalu di Marangkayu. Bahkan sebelum di aniaya oleh BU, Hariyanti mengaku lebih dulu dipanggil ke kantor polisi.

“ Saya ketemu dengan pak polisi, kemudian katanya saya di suruh ke polsek karena saya dilaporkan mencuri mobil honda jazz itu. Tapi pas saya ke polsek, ternyata laporan dia (BU,Red) tidak dibuatkan karena minim bukti,” ucapnya.

Untuk penganiayaannya, lanjut dia, terjadi siang hari usai dia pulang dari Polsek. Ketika itu dia baru tiba di kontrakan dan melihat mobil jazz itu sudah berada dipinggir jalan dan terdapat BU di sampingnya sambil memegang parang. Bahkan kaca mobil jazz itu dalam kondisi rusak.

“ Waktu itu saya di aniaya di bagian kepala dan dihempaskan ke tanah, kemudian leher saya di cekik, hingga saya di ikat dan di seret ke mobil seperti dalam video itu. Akibatnya sampai sekarang saya harus menjalani rawat jalan dan sering lakukan pemeriksaan rutin karena penganiayaan itu,” katanya.

Mengenai mobil jazz yang dirusak itu, tutur dia, merupakan hak dia sesuai surat harta gono-gini. Namun sebelum mobil itu berada di kontrakannya, mobil itu sudah 6 bulan tidak dipakai, karena di ikat rantai oleh BU dan ban-nya dikempesin.

“ Makanya saya kaget kok bisa anak saya bawa mobilnya ke rumah kontrakan saya. Padahal sebelumnya saya hanya menyuruh dia untuk mengambilkan berkas di dalam mobil. Kemudian saya menyerahkan kunci mobilnya ke anak saya, tapi pas pagi harinya saya kaget kok anak saya malah bawa mobilnya juga,” ungkap Hariyanti.

Ternyata secara diam-diam, anak Hariyanti memotong rantai yang mengikat ban mobil itu menggunakan gergaji besi dan mengompa ban-nya. Rencananya mobil itu akan digunakan anak Hariyanti untuk pergi ke rumah pacarnya. Namun, kata Hariyanti, kondisi mobil itu tidak layak pakai dan khawatir akan terjadi apa-apa dengan anaknya.

“ Saya bukan melarang, saya hanya mencegah kalau ada apa-apa dijalan, jadi kuncinya saya ambil lagi, bukan untuk memilikinya. Apalagi saya tahu jalan ke rumah pacarnya itu rusak parah dan kondisi ban mobil itu jelek,” cetusnya.

Tapi tambahnya, yang lebih ditakutkannya lagi kalau BU tahu mobilnya dipakai anaknya.

“ Karena dulu dia pernah memukuli anak saya sampai masuk rumah sakit. Setelah diperiksa dokter, ginjalnya mengalami pendarahan dan anak saya buang airnya keluar darah,” urainya.

Terpisah, Kuasa Hukum BU, Sakir menerangkan, dalam kasus dugaan penganiayaan ini JPU menuntut BU dengan Pasal 351 ayat 1 dengan ancaman 2 tahun penjara. Namun lanjutnya, pihaknya masih melihat sisi kronologisnya. Dimana tuntutan yang dibacakan jaksa pada sidang tanggal 23 Januari lalu, dikatakan bahwa Ibu Hariyanti menghubungi anaknya untuk mengantarkan berkas.

“ Namanya diminta sama orang tuanya ya mau saja, jadi anaknya nurut. Nah waktu itu anaknya menggunakan mobil dalam kondisi ban-nya kempes, supaya nggak jalan,” katanya.

Tapi, lanjutnya, mobil itu bukanlah pemicu utama permasalahan ini, melainkan berawal dari perceraian antara BU dengan Hariyanti.

“ Jadi saat proses perceraian, harta ini kan belum dibagi. Kemudian sang istri ingin menguasai kendaraan itu, yaitu dengan cara dia mengontak anaknya,” ucap Sakir.

Sehingga Sakir membeberkan kalau Hariyanti memanfaatkan anaknya untuk membawakan berkas sekaligus mobil tersebut ke kontrakkannya.

“ Pas anaknya sampai dirumah kontrakan membawa serta mobil itu, si ibu langsung mengambil kunci atau merampasnya dengan cara menggigit tangan anaknya. Kemudian ibu itu menyuruh anaknya pulang, mobilnya tinggal,” terangnya, lagi.

Karena nggak bisa melawan, akhirnya anaknya menghubungi BU dan mengatakan kalau mobil di ambil Hariyanti.

“ Tapi karena bapaknya lagi dinas, besoknya baru dia datang. Tapi sebelum datang ke lokasi, beliau laporan dulu ke Polsek Marangkayu. Dia mau minta pengamanan, karena takut terjadi kasus hukum baru dan ternyata betul. Mengenai laporannya ke polsek, beliau tidak tahu di terima atau tidak. Yang jelas beliau hanya minta di dampingi untuk mengambil mobil itu, tapi dari pihak polsek tidak mau,” kata Sakir. (b4y)

Berikan Tanggapanmu