DISEMAYAMKAN : Jenazah Datok Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Haji Adji Muhammad Salehuddin II saat disemayamkan di Kedaton Kutai Kartanegara, Minggu (5/7) pagi.

1News.id, Kutai Kartanegara – Minggu (5/7) pagi sekitar pukul 09.30 wita, kabar duka menyelimuti Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Datok Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Haji Adji Muhammad Salehuddin II dikabarkan meninggal dunia di usia 95 tahun. Saat ini Jenazahnya disemayamkan di Kedaton Kutai Kartanegara, di Jalan Monumen Timur, Kelurahan Panji, Tenggarong.

“ Iya benar. Jadi tadi pagi (Minggu,Red.) Datok sudah mulai nggak ada sewaktu di dalam kamar, tapi perawat yang jaga nggak berani memastikan. Sehingga kami membawa Datok ke rumah sakit dulu untuk memastikan apakah Datok sudah meninggal. Bahkan anaknya saja tidak ada yang menyaksikan saat Datok meninggal,” kata Adi Selendreng, Kerabat Kesultanan kepada harian ini.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, Adi mengungkapkan kalau Datok Sultan memang sudah meninggal di dalam ambulans. Kemudian usai dari rumah sakit, jenazah Datok lalu di bawa ke Kedaton Kutai Kartanegara untuk disemayamkan.

“ Rencana jenazah Datok akan dimakamkan di Makam Raja-raja di Museum Tenggarong, Senin (6/7) besok sekitar pukul 10 pagi. Saat ini sudah banyak tokoh-tokoh dan masyarakat hingga kerabat berdatangan untuk melayat di Kedaton,” terang Adi, lagi.

Sekedar diketahui, Adji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningrat yang bergelar Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II bin Sultan Adji Muhammad Parikesit atau disebut juga Pangeran Praboe adalah Sultan Kutai dari Kesultanan Kutai Kartanegara yang lahir di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Hindia Belanda, 24 Oktober 1924. Dengan demikian, Sultan meninggal pada umur 95 tahun. Sultan dinobatkan pada tanggal 22 September 2001.

Dikutip dari Wikipedia, kesultanan Kutai Kartanegara dihidupkan kembali. Awalnya pada tahun 1999, Bupati Kutai Kartanegara Drs. H. Syaukani HR, MM berniat untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.

Dikembalikannya Kesultanan Kutai ini bukan dengan maksud untuk menghidupkan feodalisme di daerah, namun sebagai upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Selain itu, dihidupkannya tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara adalah untuk mendukung sektor pariwisata Kalimantan Timur dalam upaya menarik minat wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Pada tanggal 7 November 2000, Bupati Kutai Kartanegara bersama Putra Mahkota Kutai H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerja Adiningrat menghadap Presiden RI Abdurrahman Wahid di Bina Graha Jakarta untuk menyampaikan maksud di atas. Presiden Wahid menyetujui dan merestui dikembalikannya Kesultanan Kutai Kartanegara kepada keturunan Sultan Kutai yakni putra mahkota H. Aji Pangeran Praboe.

Pada tanggal 22 September 2001, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II. Penabalan H.A.P. Praboe sebagai Sultan Kutai Kartanegara baru dilaksanakan pada tanggal 22 September 2001.

Penobatannya sendiri diakui oleh seluruh kerabat Kesultanan Koetai ing Martadipura dan Pemkab Kutai Kartanegara. Malah, ketika Pemkab Kukar di era pemerintahan Syaukani HR, ia pun dibangunkan sebuah keraton (kedaton) senilai Rp 11 miliar lebih. Letaknya persis di belakang Museum Mulawarman, Tenggarong, bekas istana atau pusat kerajaan tempo dulu. (bay/wik)

1 KOMENTAR

Berikan Tanggapanmu