1News.id, Cilacap – Bahasa Panginyongan atau akrab disebut sebagai ‘ngapak’ tak identik dengan bahasa masyarakat pesisir.

Namun karena bahasa ini adalah bahasa asli atau kultur masyarakat Cilacap hingga Banyumas, anggapan tersebut bisa saja terjadi.

“Ngapak ya kaya kuwe,” kata Suparyono, salah satu peserta Lomba Pidato Bahasa Panginyongan, Selasa (14/8/2018).

Suparyono juga mengapresiasi pelaksanaan lomba ini karena bahasa ‘ngapak’ kan bahasa nenek moyang sehingga kita wajib menjaga warisan budaya kita sendiri.

Bahasa ‘ngapak’, imbuh dia, sangat mudah dipelajari karena bahasa kita sehari-hari.

“Agar generasi muda menjadi tahu dan memahami sejarah daerahnya, serta tak malu menggunakannya dalam percakapan sehari-hari,” terangnya.

Dia yang merupakan karyawan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Cilacap menjadi bagian dari 45 orang yang mengikuti lomba tersebut yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cilacap.

Selain memeriahkan HUT ke-73 Kemerdekaan RI tingkat Kabupaten Cilacap, lomba ini bertujuan melestarikan bahasa lokal di kalangan generasi muda.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas P dan K Kabupaten Cilacap Badruddin menjelaskan kegiatan ini sengaja digelar karena selama ini bahasa ‘panginyongan’ kerap terpinggirkan, terutama di kalangan generasi muda.

“Alhamdulillah tahun ini jumlah peserta meningkat. Ada tiga topik yang diangkat, dan semuanya bermuara pada toleransi dalam lingkungan kerja maupun kehidupan bermasyarakat,” kata Badruddin, Selasa.

Menurutnya, hingga kini masih ada anggapan bahwa penggunaan bahasa ‘ngapak’ terkesan kasar. Terlebih apabila dipergunakan dalam percakapan sehari-hari. Selain itu mata pelajaran Bahasa Jawa di sekolah lebih banyak mengajarkan Bahasa Jawa gaya Keraton Solo dan Yogyakarta.

Dia meminta bahwa jangan terjebak pada stigma bahwa bahasa ‘ngapak’ merupakan bahasa kasar.

“Sebab, itu tergantung pengguna dan latar budaya dari bahasa itu sendiri. Dalam hal ini, lawan bicara juga harus diperhatikan,” tambahnya.

Para peserta dinilai oleh tiga dewan juri dengan latar belakang profesi yang berbeda-beda, yakni pegiat seni pedalangan Cilacap Tejo Sutrisno, jurnalis RRI Purwokerto Slamet Riyadi, dan Kasi Keseimbangan dan Tenaga Kebudayaan Dinas P dan K Cilacap Djarmo.

Dalam berpidato, peserta diberi waktu maksimal tujuh menit.

Beberapa kriteria yang dinilai antara lain gaya bahasa, perbendaharaan kata, kesesuaian tema, dan penyajian materi. (Red/E)

Berikan Tanggapanmu