TINDAK TEGAS : Kasat Reskoba Polres Kukar Iptu Romi saat memperlihatkan barang bukti yang diamankan dari 14 orang saat penggerebekan di Desa Sebulu Ulu, Jumat (13/7) kemarin. (bayu/1news.id)

Pesan Lewat Handphone, Bisa Pakai di Tempat Layaknya Warung Makan

1News.id, Kutai Kartanegara – Satuan Reserse Narkoba (Sat Reskoba) Polres Kutai Kartanegara (Kukar) bekerjasama dengan Unit Dalmas dan Polsek Sebulu, Jumat (13/7) kemarin melakukan penggerebekan di sebuah rumah di Desa Sebulu Ulu, Rt 11, Kecamatan Sebulu, Kukar. Dalam penggerebekan tersebut sebanyak 14 orang diamankan.

“ 14 orang yang diamankan adalah pemilik rumah berinisial Mt, dua pengedarnya berinisial Ag dan Bs, kemudian seorang DPO (Daftar Pencarian Orang) berinisial Dr, serta 10 pemakai,” urai Kapolres Kukar AKBP Anwar Haidar, didampingi Kasat Reskoba Iptu Romi kepada wartawan, Sabtu (14/7) siang.

Romi mengatakan, 14 orang yang diamankan merupakan warga di Desa Sebulu Ulu dan Desa Sebulu Modern.

“ Rata-rata yang paling banyak kami amankan semalam (Jumat,Red.) adalah pemakai. Mereka ada yang honorer di salah satu sekolah, ada pekerja tambang, ada pekerja kayu dan ada juga yang serabutan,”jelas Kasat.

Pengungkapan ini bermula adanya informasi dari masyarakat yang resah dengan kegiatan di rumah milik Mt tersebut. Apalagi dikhawatirkan, kawasan tersebut akan menjadi sebuah kampung narkoba seperti di Pasar Segiri Samarinda.

“ Untungnya baru nyaris jadi kampung narkoba. Kalau terlambat dilaporkan, maka akan makin membesar. Apalagi para pembeli dan pengedarnya adalah warga di sekitaran situ juga,” ungkap Kasat.

Terus, lanjut dia, yang jadi permasalahan adalah, sebagian warga ada yang cuek dan kurang peduli dengan aktifitas haram di rumah milik Mt. Padahal informasi yang di dapat, aktifitas itu yang sudah berlangsung sejak bulan April 2018 lalu dan baru dilaporkan sekarang. Sehingga, tegas Romi, bisa memungkinkan kawasan itu akan menjadi kampung Narkoba.

“ Beberapa warga tahu kalau disitu sering dilakukan transaksi narkoba. Tapi sebagian ada yang tidak peduli, dan sebagian ada juga yang resah. Kalau misalnya semua tidak peduli, maka besar kemungkinan di kawasan yang ada di Sebulu itu bisa jadi kampung Narkoba,” tegas Romi, lagi.

Penangkapan ini, jelas Romi, dimulai pukul 16.30 wita. Saat itu petugas berpakaian preman langsung melakukan penggerebekan di rumah tersebut dan berhasil mengamankan Mt selaku pemilik rumah, Dr dan Ag serta seorang pemakai yang habis memakai sabu.

“ Nah, saat itu kami tidak langsung membawa mereka ke Polres Kukar. Kita semua menunggu di dalam rumah, karena waktu itu kebetulan banyak pemakai yang menghubungi Ag menanyakan apakah ada barang atau tidak. Sehingga kami meminta Ag untuk mengatakan barangnya ada,” katanya.

Karuan saja, sehabis maghrib satu persatu pemakai yang ingin menikmati sabu di rumah Mt berdatangan. Mereka tidak curiga kalau sudah ada petugas kepolisian yang menunggu di dalam dan luar rumah.

“ Jadi jadual buka transaksi di rumah Mt itu dimulai sehabis maghrib. Para pemakai biasanya langsung datang untuk membeli dan memakai di dalam kamar. Di rumah kayu itu ada 4 kamar, kalau lagi ada yang nyabu dalam kamar, maka yang lain menunggu diluar. Ya kaya warung makan gitu, dan kalau sudah tidak ada pemakai, barulah transaksi ditutup lagi,” terang Romi.

Sampai 10 pemakai yang diamankan di rumah itu, polisi kembali mengembangkan kasus ini dilapangan. Dari pengakuan Ag, ada rekannya berinisial Bs yang juga membantunya mengedarkan sabu di Sebulu. Kemudian Ag menghubungi Bs untuk menanyakan apakah ada barang, dan Bs menjawab ada.

“ Anggota bersama Ag langsung mendatangi rumah Bs di dekat situ juga sekitar pukul 22.00 wita. Saat itu anggota langsung menangkap Bs beserta barang buktinya 1 poket sabu seberat 0,3 gram,” katanya.

Setelah 14 pelaku diamankan. Polisi langsung membawa semuanya ke Mako Polres Kukar untuk diperiksa lebih lanjut. Dari hasil penggerebekan di rumah Mt di Desa Sebulu Ulu, polisi mengamankan sejumlah barang bukti seperti 1 buah timbangan digital, 1 buah sendok, 10 unit Handphone, 10 unit sepeda motor, 1 bendel plastik klip, dan uang tunai Rp 1,3 juta.

“ Saat di rumah Mt, kita tidak temukan sabu yang banyak karena sudah habis terjual. Tapi kami menemukan seperangkat alat hisap sabu yang di sembunyikan di balik lantai rumah. Bahkan kami juga lihat di bawah kolong rumah yang dipenuhi air, banyak terdapat pecahan bekas bong. Sementara untuk 10 unit sepeda motor kami titipkan di Polsek Sebulu,” ucap Romi.

Setibanya di Polres Kukar, 14 orang yang diamankan langsung menjalani tes urine. Dari 14 orang tersebut, 3 di antaranya negativ.

“ Yang 11 orang positiv pemakai narkoba, sedangkan yang 3 lainnya tidak terlalu kelihatan garis di alat tes urine atau sudah lama tidak memakai sabu,” katanya.

Sehingga lanjutnya,  dari 14 orang tersebut, polisi sudah menetapkan 2 orang sebagai tersangka yakni Ag dan Bs, sementara Mt masih diperiksa untuk mengetahui keterlibatannya, dan 8 orang akan di rehabilitasi di Tanah Merah Samarinda. Kemudian untuk 3 orang akan di pulangkan.

“ Untuk pelaku Dr yang berstatus DPO akan kita tahan karena bosnya sudah lebih dulu ditangkap beberapa waktu lalu. Kita akan berkoordinasi dengan Kejaksaan dulu, apakah Dr akan dimasukkan langsung ke berkas yang lama atau dibuatkan baru,” ujarnya.

Mengenai asal sabu yang di edarkan di Sebulu itu, dibeli dari seorang pengedar di Samarinda yang baru saja bebas dari penjara. Biasanya Ag, Bs dan Dr memesan sabu sebanyak 10 gram seharga 11 juta dan kemudian mereka bagi untuk di edarkan di Sebulu.

“ 10 gram itu habis dipakai hanya dalam waktu 2 hari saja. Jadi pembeli yang memakai di rumah Mt harus mengeluarkan uang sebesar Rp 150 – 200 ribu per poket kecilnya dan itu bisa setiap hari,” pungkasnya. (bay)