BISA MENIKMATI : Udin, salah satu warga di RT 11, Kelurahan Dondang, Kecamatan Muara Jawa, Kukar saat memperlihatkan air bersih di rumahnya yang berasal dari penampungan SAB Dondang, bahkan bisa di minum langsung. (bayu/1news.id)

Dari Press Tour Bersama PHM di Kampung Dondang (1)

MENGKONSUMSI air hujan untuk memenuhi kebutuhan di rumah tangga menjadi keseharian sejumlah masyarakat di Kelurahan Dondang, Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) sejak puluhan tahun lalu. Pasalnya di kawasan yang dikenal dengan sebutan Kampung Dondang tersebut, sama sekali belum memiliki penampungan air bersih, apalagi PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum).

///// BAYU /////

MASYARAKAT yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan petani tersebut, terpaksa harus menampung air hujan hingga membuat sumur bor menggunakan alat pompa kecil dari hasil swadaya masyarakat. Air hasil bor tersebut mereka pergunakan untuk mandi, minum hingga memasak serta mencuci pakaian. Bahkan, sejak adanya tempat pengisian air isi ulang dan air tanki, masyarakat terpaksa membeli meskipun biaya yang dikeluarkan cukup mahal.

Tapi kondisi yang memprihatinkan tersebut terbayar sudah. Sejak 2015 lalu, masyarakat di Kampung Dondang, tepatnya di RT 11 sudah bisa mengkonsumsi air bersih, tanpa harus membeli air isi ulang di toko. Masyarakat mendapatkan bantuan berupa penampungan air bersih dari perusahaan Minyak dan Gas (Migas) yang beroperasi di wilayah Dondang.

Menariknya lagi, pengelolaan penampungan air bersih atau dikenal dengan sarana air bersih (SAB) yang berlokasi di Jalan Petai, RT 11, Kampung Dondang itu, langsung dikelola masyarakat. Bahkan sejak awal dibuat hingga sekarang, jumlah pelanggannya terus bertambah. Awal hanya 50, sekarang sudah mencapai 500 pelanggan.Dengan adanya SAB ini, tentunya membuat masyarakat sangat terbantu. Bukan hanya karena tak lagi membeli air isi ulang, tetapi biaya untuk mendapatkan air bersih di SAB sangatlah murah. Bahkan untuk berlangganan saja, masyarakat tak perlu menunggu waktu lama.

“ Kalau ada yang mau berlangganan hari ini juga, maka hari ini juga kita pasangkan. Hanya makan waktu satu jam saja,” ucap Ketua SAB Dondang, Zainuddin kepada awak media dalam Press Tour bersama Pertamina Hulu Mahakam (PHM) di Kelurahan Dondang, Minggu (22/7).

Masyarakat hanya diminta untuk membayar biaya pengganti pemasangan pipa sebesar Rp 2 juta. Bahkan, pembayaran itu bisa dicicil sebanyak 4 kali.

“ Terserah saja mas, mau cicilnya sampai kapan. Mau setahun kah? Sepuluh tahun kah? Asal ada uangnya ya silahkan bayar, tapi kalau belum ada ya tidak apa-apa, tetap kami pasangkan dulu,” terang Zainuddin yang juga Ketua LPM ini.

Hingga saat ini, cakupan layanan SAB sudah mencapai 80 persen. Dengan mengandalkan suplai air dari dua penampungan air yang memiliki kedalaman 115 dan 120 meter, pihaknya berencana akan memperluas pelayanan hingga ke beberapa desa yang belum terlayani air bersih.

“ Kapasitas produksi SAB ini sekitar 2,5 m3 (meter kubik) perharinya. Setiap bulannya masyarakat hanya kami tarik iuran Rp 6 ribu saja perkubiknya,” jelas Zainuddin.

Sementara itu, H Tibyan selaku Pembina SAB sekaligus Kasi PMD di Kelurahan Dondang menambahkan, selama ini PHM sudah banyak membantu masyarakat di Dondang. Apalagi, air bersih ini sangat di idam-idamkan oleh masyarakat selama ini.

“ Saya dan seluruh masyarakat sangat bangga dan senang sekali dengan adanya bantuan ini. Dulu masyarakat harus mengkonsumsi air hujan hingga menggali tanah untuk mendapatkan air bersih. Kami berharap kegiatan air bersih ini akan terus di dukung oleh PHM, sekaligus memberikan solusi kepada pengelola di SAB ini,” ucapnya.

Tibyan mengungkapkan, tak semua tempat di Dondang harus membayar iuran setiap bulannya. Pengelola SAB juga memberikan air bersih secara cuma-cuma di tempat-tempat tertentu, seperti Masjid, Mushola, PAUD, sekolah-sekolah, kantor lurah, bahkan hingga lapangan sepakbola.

“ Disemua tempat itu air bersih ini kami berikan saja secara gratis, dan itu semua bisa dinikmati seluruh masyarakat, baik di Dondang sendiri maupun masyarakat yang kebetulan mampir,” katanya.Kemudian, Handri Ramdhani sebagai Head Of Divisi Communication PT PHM menerangkan, sejak 2015 lalu, PHM memfokuskan salah satu program Corporate Social Responsbility (CSR) dengan melihat permasalahan yang dihadapi masyarakat sekitar.

“ PHM mengkaji bagaimana pengelolaan di tinjau dari aspek kelembagaan, ketersediaan air, jumlah pengguna, kebutuhan air bersih, pedoman yang mengatur dan manajemen keuangannya,” jelas Handri.

Kemudian, lanjutnya, PHM juga melakukan penelitian atau survey dengan pendekatan secara deskriptif, kualitatif dan kuantitatif.

“ Hasil penelitian di SAB Dondang dikelola berbasis masyarakat (tipe C), namun belum melibatkan pelanggan dalam pengelolaannya. Apabila SAB Dondang ini sudah beroperasi secara efektif dan efisien, maka masyarakat Dondang tidak akan kekurangan air bersih, karena dalam satu bulan air bersih di SAB tersedia hingga 15.000 m3,” terangnya, lagi.

Selanjutnya, Kepala Divisi SDS PHM, Hidayatullah melanjutkan, program ini merupakan untuk kepentingan masyarakat. Bahkan, PHM sendiri tidak hanya konsen pada pembinaan saja, tetapi kesinambungan jangka panjang.

“ Salah satunya ya akses air bersih ini, termasuk kesehatan dan pendidikan. Saat ini pipanisasi SAB ini sudah dipasang sejauh 13 Km, dan rencananya tahun 2018 ini akan kita tambah lagi 2 Km,” urainya.Tentunya, adanya SAB ini langsung dirasakan semua masyarakat di RT 11 Dondang. Seperti halnya Udin, dia mengatakan sejak adanya SAB ini sangat membantu kebutuhan air bersih dirumahnya.

“ Dulu kami disini (RT 11,Red.) harus membeli air tanki atau mengebor di sekitar rumah. Tapi ya begitu, biayanya cukup mahal,” aku Udin saat ditemui di rumahnya.

Apalagi saat air di sumur bor buatan sendiri menjadi asam. Maka, ungkap Udin, tak layak untuk dikonsumsi.

“ Untungnya sejak 2015 lalu, Pertamina Hulu Mahakam (PHM) membantu membangunkan infrastruktur SAB yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Sekarang perbulan saya hanya cukup membayar paling mahal Rp 50 ribu untuk keperluan air bersih di rumah,” ungkap Udin yang tinggal bersama istri dan seorang anaknya ini.

Sekedar diketahui, dalam Press Tour di Kelurahan Dondang tersebut diikuti 10 jurnalis dari media televisi dan cetak. Kunjungan akan dilanjutkan ke Desa Tani Baru, Kecamatan Anggana, Kukar, Senin (23/7) besok. Selain itu, kegiatan ini juga didampingi oleh Kristanto Hartadi selaku Head of Media Communication and Relation Support Department PT PHM. (bersambung)

Berikan Tanggapanmu