BANGKAI PESUT : Petugas Kepolisian Sektor Loa Janan saat mengikat bangkai pesut mahakam bersama warga di Perairan Mahakam Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan, Jumat (25/5) siang. (Photo : Polsek Loa Janan)

1News.id, KutaiKartanegara – Seekor bangkai Pesut Mahakam (Orcaella Brevirostris) ditemukan mengapung di perairan Mahakam di Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Jumat (25/5) siang sekitar pukul 13.00 Wita. Penemuan hewan mamalia yang sering disebut lumba-lumba air tawar ini pertama kali ditemukan seorang warga bernama Fatimah dan anaknya Arfan.

“ Iya mas, jadi waktu itu kan saya sama anak saya mau ke Samarinda mau cari buah kelapa. Nah pas dipinggir jalan, saya cium bau busuk menyengat. Nah dari pinggir jalan, saya liat di tengah sungai kok ada yang ngapung gitu,” kata Fatimah kepada harian ini saat dihubungi.

Awalnya Fatimah mengira benda mengapung yang berbau busuk itu adalah mayat manusia. Tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata bangkai pesut.

“ Anak saya (Arfan,Red.) langsung saya suruh lompat ke sungai untuk tarik pesut itu ke pinggir sungai. Apalagi waktu itu ada anggota polisi dari Pos Loa Duri juga datang ikut membantu dan meminta agar pesut itu dibawa ke pinggir,” ucap Fatimah.

Terus, setelah dipinggirkan dan di ikat, polisi langsung mengabarkan penemuan bangkai pesut itu ke BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Kukar.

“ Tadi saya dengar kalau mereka (BKSDA,Red.) sudah datang dan mengambil sampel untuk diteliti. Bahkan katanya bangkai pesutnya mau di tenggelamkan di sungai menggunakan batu,” ungkap Fatimah.

Hal tersebut dibenarkan oleh Innal Rahman, Anggota Komunitas Save Pesut Mahakam. Dia mengatakan kalau BKSDA sudah tiba dilokasi penemuan bangkai Pesut itu hingga sore pukul 18.00 Wita. Tapi dirinya tidak tahu bangkai pesutnya sudah diapakan.

“ Tadi saya kesana juga dan ambil foto dibagian sirip punggungnya saja, sisanya diteruskan BKSDA. Mengenai penemuan bangkai Pesut ini, saya dapat info dari Ibu Danielle Kreb (Peneliti dan Penasihat Ilmiah Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI)),” kata Innal.

Namun, dirinya tidak lama berada di lokasi usai memfoto bangkai pesut itu. Innal menduga, pesut itu mati karena menelan ikan yang terkontaminasi racun.

“ Waktu aku liat, tidak ada luka pada bagian luar tubuh pesut itu. Jadi dugaan saya secara pribadi, pesut itu mati karena memakan ikan yang sudah terkontaminasi racun. Tapi lebih jelasnya nanti dengan BKSDA,” terang Innal, lagi.

Ditanya mengenai jenis kelamin pesut tersebut, Innal mengaku tidak mengetahuinya. Pasalnya, pesut itu sudah busuk atau rusak.

“ Nggak bisa diketahui, sudah rusak atu busuk. Bahkan tiga hari yang lalu, penemuan bangkai pesut ini sudah saya ketahui ketika mengambang di perairan Desa Beloro, Kecamatan Sebulu, tapi langsung dilarutkan lagi hingga sampai di Loa Duri ini,” ujar Innal.

Sekedar diketahui, berdasarkan data tahun 2018, populasi hewan ini tinggal 80 ekor saja dan menempati urutan tertinggi satwa Indonesia yang terancam punah. Secara taksonomi, pesut mahakam adalah subspesies dari pesut (Irrawaddy dolphin).

Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, pesut mahakam hidup di sungai-sungai daerah tropis. Populasi satwa langka yang dilindungi undang-undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady.

Pesut ini ditemukan di banyak muara-muara sungai di Kalimantan, tetapi sekarang pesut menjadi satwa langka. Selain di Sungai Mahakam, pesut ditemukan pula ratusan kilometer dari lautan, yakni di wilayah Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Habitat hewan pemangsa ikan dan udang air tawar ini dapat dijumpai pula di perairan Danau Jempang (15.000 ha), Danau Semayang (13.000 ha), dan Danau Melintang (11.000 ha). (Bay)