Mengenalkan Kesenian Kutai di Indonesia hingga Dunia

1News.id, Kutai Kartanegara – Ada yang berbeda di pagelaran Rock In Borneo (RIB) tahun 2017 ini. Dimana biasanya sebuah acara selalu dibawakan langsung oleh seorang host, tapi pada tahun ini, acara musik gratis bertaraf International yang ke enam di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) ini menggunakan pementasan Mamanda sebagai pemandu acaranya.

Sekedar diketahui, Mamanda merupakan kesenian seperti wayang orang di daerah Jawa. Dimana pemerannya saling bercerita tentang kerajaan dan beradegan serius menggunakan bahasa melayu. Sehingga pada 2017 ini, RIB menggunakan tema ‘ Mamanda Etam Lestari ‘ dan di harapkan kesenian ini bisa memadukan acara dengan gaya yang tidak membosankan, namun pesan dan nilai keseniannya tetap terjaga.

“ Selama ini kita sangat bangga dengan penampilan dari luar. Padahal event kita adalah milik kita dan penampil dari daerah kita sendiri malah di kesampingkan. Sehingga, hal ini sangat di sayangkan, karena sebenarnya seniman kita juga sanggup dan pantas diberikan kesempatan untuk tampil dalam pagelaran besar dan berkelas internasional seperti Rock In Borneo ini,” ungkap Zairin Zain, Sutradara pementasan Mamanda Etam Lestari kepada wartawan.

Selama pagelaran Mamanda, akan dipandu Orkes Olah Gubang yang di dalamnya akan ada sastra bertutur kutai yang disebut Ladon. Pihaknya sendiri mempersiapkan pagelaran ini selama tiga minggu dan baru intens di satu minggu terakhir. Pasalnya, dalam dua minggu pertama, tim masih menyatukan visi dan penyusunan alur cerita. Kemudian latihan intensif baru di mulai satu minggu terakhir, hingga menuju acara.

“ Tahun ini kita lebih gugup, karena seni tradisi etnik membawa sebuah konser musik rock dan ini merupakan hal baru yang belum pernah kita coba. Kita merasakan kendala di pengaturan rundown acara serta cuaca yang tidak menentu karena area acara kita Outdoor. Tapi selebihnya alhamdulillah dilancarkan,” ucap Akbar Haka, Project Manager RIB.

Namun, hal tersebut bukanlah menjadi penghalang. Menurut Akbar, ini kesempatan kita untuk mengenalkan budaya Kutai dan Kaltim kepada dunia.

“ Ini loh Kukar punya kesenian teater tradisional yang keren, dari situ pelan pelan nanti pasti di cintai juga,” ungkap Vocalis Kapital Band ini.

Akbar juga menerangkan, setiap tahunnya, tim RIB selalu ingin  membawa manfaat bagi penonton. Jika tahun lalu, pihaknya  menggelar sholat berjamaah serta tausiah dan pembacaan maulid. Tahun ini penonton yang berjumlah puluhan ribu dan berasal dari Indonesia hingga dunia, bisa pulang membawa cerita kalau Tenggarong memiliki kesenian tradisional bernama Mamanda.

“ Dulu kami selalu dibandingkan dengan festival musik lain yang levelnya internasional juga. Namun semenjak tahun lalu, kami ingin menonjolkan identitas kami sendiri. Rock In Borneo akan tetap menjadi hari raya musik keras tapi tidak melupakan kearifan lokal lewat seni budayanya dan nilai keagamaan yang memang kuat di Kutai Kartanegara. Namun perlu di ingat, Rock In Borneo bukan hanya milik rakyat Kutai saja. Rock In Borneo merupakan acara yang patut dibanggakan oleh warga Kalimantan,” ucap Akbar. (Bay/*)

Komentar

komentar