Makna Belimbur untuk Membersihkan Diri

1News.id, KutaiKartanegara – Tepat pukul 11.00 Wita, Minggu (30/7/2017) kemarin, halaman Museum Mulawarman Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi ajang saling siram air. Ribuan warga tumplek-blek di lokasi tersebut. Mereka larut dalam sukacita pada acara Belimbur, sebagai proses penutup festival Erau Adat Kutai 2017. Tak hanya sekitar museum, Belimbur juga digelar warga pada sejumlah ruas jalan protokol di Kota Raja Tenggarong.

“Jadi semua harus basah saat acara Belimbur. Karena Belimbur, bermakna untuk membersihkan diri. Itu bukan kita menyekutukan Tuhan. Melainkan hanya tradisi para leluhur yang kita lestarikan melalui festival Erau Adat Kutai. Jadi setahun sekali di Tenggarong dan sekitarnya ini, kita ‘perang’. Saling siram air bersih,” ucap Bupati Kukar, Rita Widyasari dalam pidatonya menjelang digelar upacara Belimbur sekaligus menutup Erau kali ini.

Selain Rita, acara kemarin juga dihadiri sejumlah pejabat di jajaran Pemkab Kukar maupun Pemprov Kaltim dan lainnya. Termasuk Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, HAM Salehoeddin II serta Duta Besar (Dubes) Seychelles, Nico Barito, maupun perwakilan negara asing lainnya yang jadi peserta Erau Adat Kutai 2017. Bahkan para warga asing dari mancanegara itu, seperti Jepang, Korea Selatan, Thailand, Polandia, Bulgaria serta China Taipei, turut Belimbur bersama ribuan warga Tenggarong maupun kota-kota terdekat lainnya, seperti Samarinda, Balikpapan dan Bontang.

“Kukar memiliki potensi besar di bidang pariwisata. Ini sangat baik untuk dikembangkan ke depan. Sebab kami di Seychelles juga memiliki alam serupa Kukar, kini terus kebanjiran pengunjung. Setiap hari tercatat sebanyak 17 pesawat berbadan besar mendarat di bandara kami. Seychelles hanya bisa dijangkau melalui transportasi udara, sekitar 4 jam perjalanan dari Abu Dhabi. Karena letaknya jauh di Lautan Hindia,” jelas Nico Barito yang dapat kesempatan menyampaikan sambutan jelang Belimbur kemarin.

Sekadar informasi, Belimbur merupakan tradisi saling menyiramkan air jelang penutupan festival Erau. Itu sebagai wujud rasa syukur warga atas kelancaran pelaksanaan Erau. Selain itu, Belimbur bermakna sebagai sarana pembersihan diri dari sifat buruk dan unsur jahat. Ritual ini dilakukan setelah upacara rangga titi berakhir.

Dimulainya ritual ini ditandai ketika Sultan memercikan air tuli atau air diambil dari Kutai Lama, Kecamatan Anggana. Setelah itu masyarakat saling menyiramkan air. Ritual ini terbuka untuk semua, kecuali orangtua membawa anak kecil. Seiring perkembangan zaman, masyarakat tidak sekadar menyiram secara harfiah. Karena peserta Belimbur bahkan menggunakan alat berupa pompa air, maupun membungkus air dalam kantong-kantong plastik. Ya, jadilah Belimbur sebagai ajang perang air terjadi setahun sekali di Tenggarong dan Kutai Lama.(bay)

Komentar

komentar