Ketika Oknum Penjahit Menjadi Penjahat 

1News.id, Kutai Kartanegara – Sehari-harinya Ali Yusni (43), warga Gang 12 Jl Pangeran Antasari Samarinda, bekerja sebagai penjahit. Tapi Minggu (5/2) siang, sekira pukul 16.00 Wita, Ali Yusni pamit kepada istrinya bertolak ke Kota Raja Tenggarong, bercelana coklat mirip Pakaian Dinas Lapangan (PDL) polisi. Ternyata, sore itu Ali Yusni sebagai “polisi” berhasil memperdaya seorang cewek 14 tahun, sebut saja bernama Bulan, berstatus pelajar kelas 3 sebuah SMP di Tenggarong.

“Saat kejadian, korban (Bulan, Red) bersama seorang teman sebayanya melintas bersepeda motor tanpa memakai helm, lalu bertemu pelaku (Ali Yusni, Red) di kawasan Jl Ahmad Dahlan, Tenggarong. Ketika itulah pelaku menanyakan SIM dan STNK kepada korban. Karena tidak memiliki surat-surat dimaksud, maka korban berusaha kabur tapi terus dikejar pelaku,” ungkap Kapolres Kutai Kartanegara (Kukar) AKBP Fadillah Zulkarnaen didampingi Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) AKP Yuliansyah.

Karena korban tak punya SIM maupun STNK, maka Ali Yusni melihat ada peluang. Pria bertubuh tegap itu langsung memburu motor Bulan, sampai bisa dihentikannya di bilangan Jl Gunung Belah, Tenggarong. Dia lalu menawarkan Bulan agar membayar uang damai sebesar Rp 300 ribu. Jika tidak dipenuhi, akan dibawa ke kantor polisi. Karuan saja Bulan dan temannya bingung.

“Karena tak punya uang, korban menawarkan sepeda motor dipakainya ditahan pelaku. Tapi pelaku menolak,” kata Yuliansyah, lagi.

Ali Yusni kemudian membawa Bulan bersama temannya itu sampai ke Jl Triu di wilayah Kelurahan Loa Ipuh yang terbilang sepi. Di sebuah tempat pria itu lalu menghentikan motornya, kemudian menarik Bulan ke semak-semak. Sedangkan teman Bulan dibiarkan menunggu di tepi jalan. Nah, dalam semak-semak itulah Ali Yusni kemudian menyetubuhi Bulan.

“Keterangan korban, pelaku menggunakan baju jaketnya sebagai alas. Setelah selesai berbuat itu korban dan temannya disuruh pergi, tapi HP Samsung-nya disita pelaku. HP tersebut bisa diambil korban jika memberikan uang tebusan sebesar Rp 300 ribu, dengan batasan waktu paling lambat pukul 20.00 Wita atau jam 8 malam itu,” tambahnya.

Nasib buruk menimpa Bulan itu kemudian diadukan kepada seorang kerabatnya. Dari situlah kasus pemerkosaan serta pemerasan menimpa cewek SMP ini mencuat. Sang paman korban lalu melapor ke petugas Polres Kukar sekira pukul 21.00 Wita. Begitu menerima laporan tersebut, anggota Unit Opsnal Sat Reskrim Polres Kukar, Bripka Syamsuddin Otez bersama sejumlah rekannya langsung dikerahkan ke lapangan.

Strategi untuk meringkus pelaku kemudian disusun. Bulan kemudian menghubungi nomor HP miliknya yang disita Ali Yusni. Dalam pembicangannya, Bulan bersedia menebus HP Samsung miliknya setelah menggadai sepeda motor. Tak hanya itu, Bulan juga bersedia kembali melayani keinginan Ali Yusni untuk “main” lagi. Disepakati pertemuan dilakukan di Jl Lapangan Tenis, Tenggarong.

Begitu mendengar ajakan Bulan, maka Ali Yusni yang saat itu sudah hampir sampai ke rumahnya di Samarinda, langsung balik kanan ke Tenggarong. Tapi kali ini bukannya kenikmatan diterima, justru penjahit mendadak jadi penjahat itu malah kena batunya. Sebab sekira pukul 01.30 Wita, Senin (6/2) dinihari, saat menunggu Bulan di sebuah tempat di Jl Tenis Lapangan Tenggarong, “polisi” ini justru dibekuk Bripka Otez dan rekannya di Unit Opsnal Sat Reskrim Polres Kukar.

“Kami sebenarnya sempat kehilangan jejak pelaku. Tapi ketika bertemu seorang pria bercelana coklat dalam gang di Jl Tenis Lapangan itu, saya langsung curiga. Apalagi begitu saya tanya sedang apa di sini? Dia bilang lagi tunggu orang. Begitu saya mau tanya lagi, dia mengaku polisi. Nah, rupanya dia juga curiga dan bermaksud kabur. Maka langsung saya tangkap,” kata Bripka Syamsuddin Otez.

Begitu digelandang ke Kantor Polres Kukar, ternyata Ali Yusni berusaha berkelit alias tak mengakui perbuatannya. Tapi setelah begitu disebutkan penangkapan itu setelah ada laporan dari Bulan selaku korban, akhirnya Ali Yusni mengaku. Sementara mengenai celana seragam PDL berwarna coklat dipakainya itu, disebut milik seorang polisi yang akan diantarkan Ali Yusni ke Tenggarong.

“Saya penjahit Pak. Jadi celana coklat ini pesanan seorang polisi, nama Rizky, katanya bertugas di Tenggarong. Saya sekitar sebulan ini tinggal di Jl Antasari Samarinda. Saya beristri dan punya 7 anak,” ucap Ali Yusni.(bayu)