Kakek 64 Tahun Dibekuk Polsek Kota Bangun

1News.id, Kutai Kartanegara – Meskipun sudah berusia 64 tahun serta berstatus kakek-kakek, tapi Pardi yang tinggal di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), seakan tidak kalah dengan orang muda. Bayangkan, beberapa hari lalu Pardi berjudi di Samarinda, kemudian “main” cewek di sebuah kafe selanjutnya membeli beberapa bungkus rokok. Tapi Sabtu (18/2/2017) malam, kai-kai itu dibekuk Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) Polsek Kota Bangun, Ipda Edy Haryanto SH, lantaran mengedarkan duit alias uang palsu.

“Jadi pelaku (Pardi, Red) sempat memakai uang palsu dengan nominal Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu untuk berjudi, kemudian membayar cewek di kafe serta membeli rokok. Aksinya terungkap setelah seorang pemilik warung mengadu kepada petugas kami, karena dibayar Pardi dengan uang palsu lembaran Rp 100 ribu,” ungkap Kapolres Kukar AKBP Fadillah Zulkarnaen didampingi Kapolsek Kota Bangun AKP Choriyan.

Ya, Sabtu (18/2/2017) siang lalu seorang warga mengadu ke polisi. Dikatakan, seorang pria tua yang belakangan diketahui bernama Pardi, datang ke warung warga tersebut membeli 2 bungkus rokok. Begitu menerima pembayaran dan memberikan kembalian ke pembeli, diteliti kembali, uang lembaran Rp 100 ribu dari Pardi diduga palsu.

“Tapi ketika si pemilik warung mencari, si pembeli tak lain Pardi, sudah keburu pergi. Lalu kejadian itu dilaporkan kepada Kanit Reskrim (Ipda Edy Hariyanto, Red) yang sedang bertugas. Korban juga menyebutkan ciri-ciri terduga pelaku yang terakhir dilihat menuju ke arah Kota Bangun. Warung itu terletak di jalur poros Kota Bangun ke Tenggarong,” jelas Choriyan.

Berbekal keterangan korban, maka sejumlah petugas Polsek Kota Bangun langsung melakukan pencarian. Ternyata sekira pukul 21.30 Wita, polisi melihat sosok dimaksud, tak lain Pardi, sedang asyik makan bakso di sebuah warung terletak di simpang tiga Desa Kota Bangun Ulu. Secepatnya petugas langsung meringkus pria tua itu.

“Saat digeledah, ditemukan puluhan lembar uang palsu lainnya dengan nominal Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Jumlah seluruhnya uang palsu itu mencapai Rp 10 juta,” kata Kapolsek, lagi.

Tertangkap basah menyebarkan duit aspal (asli tapi palsu, Red), membuat Pardi tak berkutik saat digelandang petugas ke Kantor Polsek Kota Bangun. Dalam penjelasannya ke polisi, Pardi menyebutkan dapat uang itu beberapa hari dari kenalannya di Blora, Jawa Tengah. Nah, dari Blora si pelaku membawa uang palsu itu ke Surabaya. Kemudian dari Surabaya, Pardi kemudian terbang ke Balikpapan lalu melanjutkan perjalanan ke Samarinda. Sekitar pertengahan pekan lalu itu pula, Pardi memakai uang aspal itu berjudi.

“Saya juga gunakan uang tersebut membayar seorang wanita (PSK, Red) di kafe seharga Rp 400 ribu. Uang palsu itu juga saya pakai membeli makanan dan minuman serta rokok di sejumlah warung dari Samarinda sampai Kota Bangun. Saya bawa uang itu dari Blora dengan jumlah nominal Rp 12 juta. Setelah itu nanti habis, saya membayar Rp 3 juta kepada kenalan di Blora,” ujar Pardi.

Kini kakek itu hanya bisa pasrah mendekam di tahanan Polsek Kota Bangun. Ya, Pardi bahkan terancam hukuman berat alias harus lama menghuni hotel prodeo. Karena mengedarkan uang palsu, Pardi dijerat Pasal 26 Ayat 3 Junto Pasal 36 Ayat 3 Undang-Undang UU RI Nomor 7 Tahun 2011, tentang Mata Uang, Junto Pasal 245 Junto Pasal 55 KUHP.

“Ancamannya berupa pidana penjara sampai 15 tahun,” tegas Kapolsek Choriyan. (bayu)