Sejuta Kenangan dari Pak Kaning (3)

MANTAN Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Syaukani HR atau akrab disapa Pak Kaning meninggalkan banyak kenangan berharga bagi masyarakat daerah ini. Salah satunya Jembatan Martadipura, terletak di wilayah Kecamatan Kota Bangun. Meskipun sempat “tidur” selama 16 tahun bahkan disebut “Jembatan Abu Nawas”, kini Martadipura menjadi jembatan terpanjang di Indonesia dan menjadi urat nadi transportasi darat bagi masyarakat pedalaman Kukar.

DENGAN kondisi geografis Kukar sangat luas, Syaukani selaku Bupati Kukar di awal 2000 lalu melakukan terobosan melalui Program Gerakan Pengembangan Pemberdayaan Kutai (Gerbang Dayaku). Dengan kondisi tersebut, maka diperlukan biaya besar untuk membangun infrastruktur di wilayah Kukar yang luas. Hal itu sangat disadari Syaukani sehingga membuat konsep pembangunan Kukar secara berkelanjutan.

Nah, salah satu proyek besar sekaligus kini sangat bermanfaat bagi rakyat Kukar, terutama bermukim di kawasan pedalaman seperti Kecamatan Kenohan, Kembang Janggut, Tabang dan sebagian Kecamatan Kota Bangun adalah Jembatan Martadipura. Memang begitu selesai dibangun, jembatan terlihat membentang kokoh di atas Sungai Mahakam terletak pada wilayah Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun tersebut, tidak langsung berfungsi selama kurang lebih 16 tahun.

“Pak Syaukani tidak keliru jika dulu ‘nekat’ membangun Jembatan Martadipura di Kota Bangun. Dalam sejumlah kesempatan bapak (Syaukani, Red) menuturkan ke masyarakat maupun pejabat di jajarannya, membangun Kukar tidak bisa ‘simsalabim’ langsung jadi seperti di cerita tokoh Aladin dengan lampu ajaibnya. Diperlukan biaya sangat besar dan pekerjaan lama, maka Jembatan Martadipura tak bisa langsung digunakan. Karena jalan pendekat harus dibangun dengan sistem slip file atau jembatan layang,” ungkap Ketua DPRD Kukar, Salehuddin.

Ya, politisi muda Partai Golkar ini terbilang cukup mengetahui secara lengkap mengenai perjalanan proses pembangunan Jembatan Martadipura. Mengingat legislator yang juga Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Kukar ini memang bermukim di Kota Bangun. Salehuddin juga menyadari, kini tugas Pemkab Kukar bersama pihak terkait lainnya adalah memelihara dengan baik berbagai aset berharga serta bermanfaat bagi rakyat.

“Termasuk Jembatan Martadipura di Kota Bangun, saat ini kondisi di lapangan sangat memerlukan perawatan. Ada sejumlah titik harus dirawat atau diperbaiki. Informasi saya terima dari Dinas BM-SDA (Bina Marga-Sumber Daya Air) Kukar, diperlukan biaya mencapai Rp 23 miliar untuk perawatan atau perbaikan tersebut. Itu harus diutamakan. Jangan sampai nanti Martadipura ambruk seperti menimpa Jembatan Kartanegara di Tenggarong,” ucap Bang Saleh, begitu Ketua Dewan Kukar ini akrab disapa.

Perawatan jembatan tersebut juga mengacu rekomendasi Kementerian Pekerjaan Umum (PU) RI. Intinya, jika jembatan bentang panjang harus benar-benar diprioritaskan perawatan serta perbaikannya. Karena volume kendaraan melintas di jembatan terus bertambah, dikhawatirkan terjadi kerusakan masif dan berakibat buruk.

“Diperlukan perhatian khusus dari Pemkab Kukar maupun pihak terkait lainnya, supaya Jembatan Martadipura tidak senasib dengan Jembatan Kartanegara dulu. Sekarang kewajiban semua pihak memelihara berbagai aset penting dimiliki Kukar. Ya salah satunya Jembatan Martadipura tersebut. Jangan sampai pembangunan telah dilakukan pemerintah terdahulu dengan biaya besar serta banyak waktu tersisa, jadi terbuang percuma karena kurang perhatian. Apalagi itu sangat diperlukan bagi urat nadi kehidupan perekonomian masyarakat,” katanya.

Ya, langkah Syaukani membangun Kukar selama hampir 2 periode sebagai kepala daerah, memang sudah banyak. Meskipun Syaukani yang tutup usia 27 Juli 2016 lalu selalu mengakui, jika Program Gerbang Dayaku dilaksanakan pemerintahannya baru sekadar “kulit” yang belum dapat dinikmati maksimal oleh masyarakat. Namun kini sebagian “buah” sudah bisa dirasakan masyarakat, begitu Rita Widyasari selaku Bupati Kukar telah menyempurnakan sejumlah pembangunan yang belum sempat dituntaskan sang ayah.

“Warga pedalaman bersyukur Pemkab Kukar telah membangun Jembatan Martadipura. Kan sekarang jadi jembatan terpanjang di Indonesia, mengalahkan Jembatan Suramadu di Jawa Timur,” tambah Saleh. (bersambung)