Sejuta Kenangan dari Pak Kaning (2)

BICARA tentang mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Syaukani HR atau akrab disapa Pak Kaning, tidak lepas dengan objek wisata Pulau Kumala terletak di wilayah Kecamatan Tenggarong. Dulu, ketika Syaukani berencana membangun lahan tidur seluas 76 Hektare (Ha) dihuni monyet maupun satwa lainnya, banyak pihak menentang. Alasannya, itu mengganggu habitat satwa penghuni pulau. Tapi kini, Pulau Kumala jadi idola sehingga ribuan warga berkunjung setiap hari.

JIKA semula ditentang, justru kini Kukar bersyukur memiliki Pulau Kumala. Sebab, pembangunan objek wisata dirintis Syaukani pada Tahun 2000 ketika menjadi Bupati Kukar, kini sampai ke depan, Pulau Kumala menjadi salah satu “mesin cetak uang” untuk kas daerah. Hal itu ditegaskan anggota DPRD Kukar, Firnadi Ikhsan yang terus mencermati tingkat kunjungan warga lokal maupun luar Kukar ke Pulau Kumala.

“Wow, kini Pulau Kumala semakin mantap. Pak Kaning dulu tak keliru membangun Pulau Kumala. Apalagi kini Ibu Rita Widyasari sebagai Bupati Kukar, menjadikan pariwisata sebagai arah pembangunan daerah. Sebab kita tak bisa lagi terus mengandalkan tambang Migas dan batu bara. Dengan kunjungan wisatawan meningkat, tentu ke depannya ada multi player efek ekonomi daerah Kukar dari sektor pariwisata,” jelas Firnadi.

Politisi muda Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menuturkan pula, peluang usaha di sektor pariwisata tersebut harus pula ditangkap dengan kreativitas masyarakat. Tentu difasilitasi pemerintah seluas-luasnya agar Kukar benar-benar siap sebagai destinasi atau tujuan wisata utama di Kalimantan Timur (Kaltim).

“Jadi bukan sekadar memiliki infrastruktur pariwisata seperti Pulau Kumala dan lainnya. Tapi juga masyarakat sadar wisata harus jadi ciri khas kita di Kukar. Karena itulah kami di legislatif senantiasa mendukung upaya eksekutif memaksimalkan pengelolaan berbagai objek wisata daerah ini. Kami yakin Pemkab Kukar sudah menyiapkan opsi tertentu dalam mengelola potensi yang ada. Karena sudah ada pengalaman saat aset tersebut dikelola SKPD sendiri maupun ketika diserahkan kepada pihak ketiga,” urainya.

Sekadar informasi, Pulau Kumala merupakan daerah delta terletak di kawasan Sungai Mahakam memanjang di sebelah barat Kota Raja Tenggarong. Setelah dibangun Pemkab Kukar dengan berbagai kelengkapan penunjang, seperti resort untuk bermalam, lamin adat serta sejumlah wahana permainan, beberapa waktu kemudian Pulau Kumala sempat tidak berfungsi.

Melihat kondisi tersebut, Rita Widyasari selaku Bupati Kukar bersama jajarannya kemudian membangun jembatan penyeberangan ke Pulau Kumala. Sekitar 3 bulan lalu, tepatnya 22 Maret 2016, penyeberangan ke Pulau Kumala diberi nama Jembatan Repo-repo atau kunci alias gembok dalam Bahasa Kutai, diresmikan fungsinya. Setelah itulah Pulau Kumala terus kebanjiran pengunjung setiap hari.

Bahkan saat liburan Hari Raya Idulfitri 1437 Hijriyah tadi, Pulau Kumala benar-benar diserbu pengunjung. Informasi diberikan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kukar, pendapatan penjualan tiket masuk ke Pulau Kumala selama 5 hari libur panjang Lebaran tersebut, hampir mencapai Rp 300 juta.

“Tentu Kukar harus bersyukur memiliki Pulau Kumala yang disulap jadi objek wisata terkemuka di Kaltim,” tambah Firnadi. (bersambung)