Cerita Dari Senipah Peciko South Mahakam

KAKI melangkah secara tertib keluar dari sebuah hotel di Kota Balikpapan, hari itu (Kamis, 2/06/2016). Seluruh peserta pelatihan jurnalistik yang digelar perusahaan minyak dan gas (Migas), Total E&P Indonesie (TEPI) yang bekerjasama dengan Tempo Institute, satu persatu masuk kedalam minibus.  Kendaraan tersebut digunakan untuk mengantar ke salah satu wilayah operasional TEPI di Senipah, Muara Jawa, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim).

Peserta merupakan jurnalis media cetak dan elektronik lokal di Kaltim, yang mendapatkan kesempatan mengikuti agenda tersebut setelah melalui tahap seleksi awal. Selain pelatihan menulis, pihak perusahaan juga menerangkan tentang proses produksi migas, safety atau keamanan kerja juga dipaparkan. Lalu, bagaimana safety kerja yang dikatakan ketat dan gambaran tentang menggiurkan itu?

Setelah seluruh peserta masuk kedalam bus, pengemudi lalu menyampaikan pesan agar seluruh peserta memasang safety belt.

“Kita akan segera berangkat menuju Senipah, pastikan semua sudah memasang safety belt,” ucap pengemudi sembari tersenyum.

Perjalanan dari Balikpapan menuju Senipah sedikitnya memakan waktu sekitar 90 menit, berangkat pukul 7 pagi, peserta dan pendamping dari pihak TEPI dan Tempo Institute tiba di Senipah sekitar pukul 08.30 Wita.

“Bisa kumpulkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) atau SIM (Surat Izin Mengemudi)-nya,” pinta Aji Wirantoro (37), Media Relation TEPI, yang juga merupakan panita dari kegiatan ini, 40 Tahun Lapangan Senipah Peciko South Mahakam (SPS).

Usai memberikan kartu identitas, peserta lalu dipersilahkan melewati gerbang masuk SPS yang dikawal dengan sejumlah pihak keamanan dari TEPI.

“Silahkan masuk ke ruangan, kita akan mendapatkan arahan tentang safety ketika berada di SPS,” terang Aji.

Dalam ruangan tersebut, pihak TEPI sudah menanti, layar proyektor telah disiapkan beserta materi dan perlengkapan keamanan yang harus digunakan oleh seluruh peserta.

“Pemberian pemahaman tentang operasional dan safety disini diberikan untuk setiap orang yang baru berkunjung, ataupun pekerja yang baru berkunjung lagi setelah 3 bulan lamanya,” papar Johanes Anton Witono, Site Production Engineer, yang kadang disapa Ahok.

Sebelum mengunjungi sejumlah titik di SPS, seluruh peserta diberikan alat pelindung diri, mulai dari katelpak (baju khusus), sepatu keamanan, kaos tangan hingga penutup telinga.

“Datang selamat, pulang harus selamat. Itu yang kita utamakan,” kata Viktor (27), Junior Panel Control Room SPS kepada media ini.

Peserta lalu masuk kembali kedalam bus, diantar kesejumlah titik untuk mengenali proses produksi migas. Bus berjalan dengan kecepatan maksimal 25 kilometer per jam, sebelumnya, para jurnalis yang membawa kamera juga harus menutup sumber flash atau cahaya, karena ketika difungsikan, hasil cahaya dari kamera dapat terdeteksi oleh alat pendeteksi kebakaran. Jika terdeteksi, maka proses produksi bisa terganggu bahkan terhenti dan tentunya dapat merugikan pihak perusahaan.

Dengan pakaian Safety lengkap, para jurnalis berkesempatan untuk melihat dari dekat sejumlah pipa “raksasa” dan alat-alat penunjang operasional lainnya untuk melakukan sesi pemotretan.

Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan (K3L) memang mendapatkan perhatian prioritas bagi TEPI. Wajar saja ketika salah satu karyawannya menegaskan bahwa datang selamat harus pulang dengan selamat pula.

“Seluruh kontraktor, sebelum memulai pekerjaannya sudah memahami dan menandatangani aturan main. Konsekuensi harus menjalankan aturan sepenuh hati, seperti para wartawan yang hadir, harus pakai PPE (Personal Protective Equipment atau Alat Pelindung Diri). Kalau kita yang kerja disini tidak pakai PPE, ya di suruh pulang,” tutur Viktor, dirinya sudah bekerja di TEPI selama 10 tahun.

Saking pentingnya K3L di lingkup TEPI, termasuk di Senipah, apabila ada pekerja yang melanggar aturan maka akan mendapatkan skorsing.

“ Ada yang di skor 1 hingga 2 bulan, ada juga yang diberhentikan kalau pelanggarannya fatal. Tapi itu dulu, sekarang kesadaran mulai meningkat tentang K3L,” lanjut Victor.

Meski aturan safety atau K3L di TEPI begitu ketat, namun aturan tersebut diakui bermanfaat bagi para pekerja di lingkungan operasional bahkan hingga aktivitas sehari-hari di rumah. Seperti kisah Kaharuddin, bekerja di TEPI sejak tahun 1988 hingga kini membuat dirinya merasakan manfaat dari aturan K3L dari TEPI.

“Bukan hanya di tempat kerja, dirumah kita juga safety juga. Seperti di samping kompor ada kain tebal untuk antisipasi kebakaran. Selain itu, setiap menggunakan kendaraan juga pakai safety yang lengkap. Bukan hanya keluarga saya, tetangga juga kita berikan sosialisasi di waktu senggang,” tutur Kaharuddin kepada sejumlah awak media.

Menggiurkannya Kerja di Industri Migas

Dibalik ketatnya aturan kerja di industri migas, khususnya TEPI. Menjadi bagian dari perusahaan inudstri migas, tetap saja ‘menggiurkan’. Seperti yang dituturkan Aji Wirantoro, Media Relation TEPI, yang telah bekerja selama  17 tahun di perusahaan migas yang beroperasi di Blok Mahakam tersebut.

“Dulu pertama kali berfikir kalau bisa bekerja di Total (TEPI),pasti bisa mendapatkan penghasilan yang bagus. Karena saya melihat teman-teman saya yang keluarganya bekerja di TEPI memilki kehidupan yang baik dari segi ekonominya,” urai Aji, yang masuk ke TEPI melalui seleksi program Operator and Technician Program (OTP), program rekrutmen karyawan TEPI untuk lulusan SMA Sederajat terbaik.

Dengan profesinya kini, ia merasa bangga karena kerap kali dapat berjumpa langsung dengan artist nasional yang biasa ia saksikan hanya melalui layar kaca saja. Rekan-rekan seangkatannya sekolah juga banyak yang mengapresiasi posisi kerjanya kini. Dari informasi yang dihimpun media ini, Aji juga telah memiliki rumah pribadi yang mewah serta mobil pribadi, dari hasil kerjanya di Industri migas.

Bekerja dengan jadwal 2 minggu masuk dan 2 minggu off, Aji bahkan bisa menikmati liburan berkeliling ke berbagai pulau di Nusantara.

“Kalau dulu ketika masih bekerja di site, kalau off dua minggu saya suka jalan liburan ke luar daerah. Pernah ke Sumatera Barat, Jambi, Sukabumi, Bandung, Yogyakarta, Solo, Bogor, Jakarta, Semarang, Batang, Malang, Surabaya, Jember, Bali, dan daerah lain,” tuturnya.

Setelah bertugas di Balikpapan dengan posisi kerjanya kini, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk bersantai di rumah dan berolahraga. Bekerja di Migas bukan berarti tanpa tantangan, bagi Aji, tugas ia kini ialah membuat masyarakat paham tentang industry migas.

“Kita juga harus memiliki relasi media yang baik, untuk mengabarkan tentang industry migas melalui media,” tutupnya.

Reporter: Sapri Maulana/