1News.id, Samarinda – Seorang remaja berinisial Ra (16) yang tega membunuh pasangan sejenisnya bernama Imam (25), menjalani reka ulang adegan peristiwa berdarah tersebut di empat lokasi berbeda, pada Rabu (4/5) pukul 11.00 Wita, siang tadi.

Dengan pengamanan penuh dari puluhan personel kepolisian dari Polresta Samarinda dan Polsekta Sungai Kunjang. Mulai dari lokasi Ra dan Imam bertemu dengan rekannya yang lain berjarak sekitar 10 kilometer dari tempat pembunuhan.

Mulanya Ra, Imam dan beberapa rekannya yang lain berkumpul untuk menenggak minuman keras. Namun saat Imam sedang sibuk, Ra kemudian mengeluarkan badik yang dibawanya dan mengasahnya di salah satu material bangunan tidak terpakai tersebut.

Setelah minuman habis dan Ra selesai mengasah badiknya, remaja yang duduk di bangku kelas satu SMK di Samarinda, Kalimantan Timur ini mengajak Imam untuk meninggalkan lokasi tersebut dan menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Kala itu, Ra dibonceng menggunakan sepeda motor milik Imam. Sesampainya di lokasi, Ra langsung menarik badiknya dari selipan celana, dan menghujamkannya di leher bagian kanan Imam. Darah segar mengalir dari leher Imam, Ra kala itu langsung mendorongnya hingga terjatuh dari kendaran roda dua tersebut.

Melihat Imam masih bisa berdiri, Ra langsung mengambil langkah seribu. Karena luka yang diderita Imam cukup parah, akhirnya pemuda pecinta sejenis tersebut tumbang dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Beberapa menit kemudian, Ra kembali menghampiri jasad Imam bersama seorang rekannya. Sepeda motor dan dompet milik Imam kemudian dibawa lari dengan Ra.

“Rekonstruksi ini kami lakukan sebanyak tiga puluh enam adegan dan di empat lokasi berbeda sesuai dengan pengakuan tersangka (Ra, Red) serta saksi lainnya,” tutur Kanit Reskrim Iptu Heru Santoso.

Selama kurang lebih dua jam polisi melakukan reka ulang adegan ini, membuat pemberkasan kasus pembunuhan pasangan sejenis ini siap untuk dilimpahkan ke meja hijau.

“Pada reka ulang tadi, kami bisa melihat lebih detail bagaimana, adegan per adegan yang dijalani tersangka,” jelas Heru.

Meski masih berusia belasan tahun, namun Ra tetap dijerat dengan Pasal 338 KUHP jucnto Pasal 340.

“Maksimal hukuman ini adalah seumur hidup, dan minimal dua puluh tahun kurungan. Namun keputusan vonis semua bergantung kepada kejaksaan, kami hanya melakukan prosedur yang telah ditetapkan,” pungkas Heru.

Aksi nekad yang dilakukan Ra hingga menghabisi nyawa pasangan sejenisnya tersebut, dikarenakan ancaman Imam yang hendak menyebar luaskan hubungan terlarang mereka ke media sosial, jika Ra tidak ingin menemuinya saat itu.

Reporter: Muhammad Zulkifli/ Editor: Esa Fatmawati