1News.id, Sanggata – Kapten tim APE Crusader dari Centre for Orangutan Protection (COP) Paulinus Kristianto mengungkapkan, dari hasil autopsi yang dilakukan, Senin (2/5) kemarin, banyak ditemukan luka lebam sebanyak 5 (lima) titik di bagian tubuh Orangutan, diantaranya luka lebam pada Cheekpad atau lembaran pipi berdiameter 3 cm, punggung bagian kiri berdiameter 15 cm. Kemudian pada betis bagian kiri, bagian bahu kanan, dada bagian depan.

 

” Selain itu kami juga menemukan luka terbuka sebanyak empat titik, yakni pada lengan kanan bagian atas, punggung tangan kiri, bagian telapak kaki dan bagian ibu jari berdiameter 1 cm. Kemudian pada betis kanan, dada samping kiri dan lengan kiri juga terdapat luka sayatan sepanjang 15 cm dengan kedalaman luka 1 cm,” kata Paulinus kepada harian ini, Selasa (3/5). Selanjutnya terdapat luka bakar di lengan kanan bagian bawah dengan panjang 20 cm dan lebar 5 cm. Sementara untuk kulit sampai rambut yang mengelupas disebabkan oleh air.

 

Paulinus menduga, Orangutan ini mati sebelum tenggelam. Karena pada paru-parunya tidak ditemukan pasir atau kerikil. Kemudian mengenai hasil autopsi ini sudah diserahkan ke Polres Sangatta dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam hal ini adalah BKSDA dan Balai TNK.

 

” Kami harap temuan bangkai Orangutan ini menjadi temuan terakhir yang tidak jauh dari pemukiman penduduk. Apalagi sebelumnya kita dikejutkan dengan temukan tiga ekor Orangutan yang terbakar di Bontang akhir Februari lalu,” tambahnya.

 

Sekedar diketahui, autopsi ini dilakukan lansgung oleh Polres Sangatta, COP, Balak TNK. Dari hasil autopsi, bangkai Orangutan yang ditemukan mengapung di perairan Mahakam di Sangatta tersebut berkelamin jantan dan diperkirakan berusia diatas 25 tahun dengan berat badan sekitar 60-80 kilogram. Kematian Orangutan tersebut diperkirakan terjadi 5-7 hari.

Reporter: Meow/ Editor: Riadi Saputra