Selama 2 Tahun Jadi “Pemain”, 6.700 Butir Pil Koplo Disita

1News.id, Kutai Kartanegara – Selasa (8/3) malam sekitar pukul 23.00 Wita, rumah sekaligus warung dihuni Noorhayati alias Nur (41) bersama suami serta 5 anaknya, kedatangan 2 pria. Semula Nur terlihat tenang ketika menyambut kedatangan tamunya tersebut. Tapi belakangan wajah ibu rumah tangga (IRT) tersebut pucat pasi, begitu mengetahui kedua pria tersebut tak lain anggota Polsek Tenggarong.

Ya, Nur ternyata selama ini menjalankan usaha “sampingan” dengan mengedarkan obat terlarang bermerk dobel L (LL), selain berjualan teh dan kopi di warungnya. Apalagi saat menggeledah kediaman Nur, polisi menemukan sebuah bungkusan plastik hitam berisi sebanyak 1.700 butir pil koplo merk dobel L tersebut. Mau tak mau Nur ditemani suaminya, hanya bisa pasrah digelandang petugas ke Kantor Polsek Tenggarong.

“Kini dia (Nur, Red) telah berstatus tersangka serta resmi ditahan untuk menjalani proses hukum selanjutnya,” ujar Kapolres Kukar AKBP Handoko, didampingi Kapolsek Tenggarong AKP M Dahlan Djauhari kepada harian ini.

Kepada polisi Nur mengakui ulahnya sebagai pengecer pil koplo, dengan harga jual Rp 10 ribu per 3 butir. Dari situ Nur mendapatkan keuntungan besar, lantaran dia hanya membayar harga Rp 300 untuk setiap butir obat teler. Karena untuk sebanyak 1.000 butir butir obat dobel L tersebut, Nur membelinya seharga Rp 300 ribu.

“Keuntungan menjual obat dobel L tersebut saya gunakan untuk membeli kebutuhan rumah tangga sehari-hari,” ujar Nur.

Dalam keterangannya ke polisi, Nur menyebutkan rutin membeli obat terlarang itu dari seorang kenalannya, juga seorang IRT bernama Ani (40) yang tinggal di Jl Meranti, Samarinda. Biasanya dalam setiap pengiriman, Ani menyerahkan sebanyak 5.000 butir obat dobel L itu kepada Nur. Nah, dari situlah polisi kemudian memancing Ani supaya mengantarkan pil koplo tersebut kepada Nur.

“Setelah mendapat keterangan dari Nur, anggota kami kemudian mengatur strategi untuk menangkap pemasok barang terlarang itu. Hasilnya, Rabu (9/3) sore ini kami berhasil menangkap rekan bisnis Nur, bernama Ani yang mengantarkan obat dobel L dari Samarinda,” tambah Kapolsek Djauhari.

Memang, jika sekilas melihat penampilan Ani, tidak bakal disangka jika IRT beranak 3 tersebut merupakan pemain narkoba. Perempuan berjilbab itu mengaku terpaksa berbisnis barang terlarang, karena terdesak kebutuhan ekonomi. Mengingat sang suami sudah lama menderita sakit ginjal, sehingga tak bisa lagi bekerja.

“Jadi sejak 2 tahun lalu saya terpaksa begini (mengedarkan pil koplo, Red). Karena ketiga anak saya masih sekolah, memerlukan biaya, juga untuk kehidupan rumah tangga kami sehari-hari. Dari setiap bungkus besar berisi 1.000 butir obat dobel L ini, saya jual kepada para pembeli, termasuk Nur, seharga Rp 300 ribu. Sedangkan saya beli dari kenalan di Samarinda untuk sebungkus jumbo tersebut, harganya Rp 280 ribu,” urai Ani sembari terisak menyesali nasib dirinya.

Sekadar informasi, dobel L merupakan salah satu obat kimia dulunya digunakan sebagai obat batuk. Namun penderita tidak langsung sembuh karena obat ini hanya menghentikan batuknya. Sedangkan pemakai malah ketergantungan alias jadi kecanduan, karena selain hentikan batuk, obat ini memberi ketenangan. Lebih parahnya, obat dobel L dapat menghilangkan kesadaran dan sistem kontrol syaraf otak terhadap perilaku si pemakai. Itu jika berlebihan dosis, sehingga pemakai obat ini tidak sadar diri dan tak dapat mengontrol perbuatannya. (bay)