Beraksi Januari 2015, Uang Rp 650 Juta Milik IRT Raib

1News.id, Kutai Kartanegara – Dua komplotan pelaku hipnotis atau dikenal dengan gendam berhasil diamankan Unit Reskrim Polsek Sangasanga. Keduanya bernama Chairil alias Ali (33) dan M Yusuf alias Usup (41) warga pendatang asal Kalimantan Selatan (Kalsel). Mereka ditangkap di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Batu Ampar, Balikpapan, Rabu (16/12/2015) lalu sekitar pukul 14.00 Wita.

Kapolres Kukar AKBP Handoko, melalui Kapolsek Sangasanga AKP Muhadi menerangkan, kasus gendam ini menimpa seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial Sp warga Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara (Kukar). Kasus ini terjadi bulan Januari 2015 lalu dan baru terungkap di bulan Desember 2015.

“ Jadi sebenarnya pelakunya ada enam, namun dua pelaku diamankan di Polres Bontang dalam kasus yang sama dan dua lainnya masih buron,” terang Muhadi kepada harian ini, Selasa (29/12/2015) pagi.

Kemudian lanjut Muhadi, gendam yang dilakukan para pelaku terbilang sudah terencana. Berawal saat salah satu pelaku mendatangi rumah Sp dan mengaku berasal dari Kalsel. Kemudian pelaku tersebut menawarkan sebuah keramik berupa guci kecil dan piring untuk biaya berobat kakeknya yang sedang sakit seharga Rp 250 ribu.

“ Waktu itu korban membelinya, tapi seminggu kemudian pelaku kembali datang bersama temannya dengan membawa guci dan piring lagi. Guci dan piring kecil itu dibeli lagi oleh korban dengan harga Rp 1,5 juta,” ucapnya.

Sebelum meninggalkan rumah Sp, pelaku dengan sengaja menitipkan piring besar warna hijau di rumah Sp dan akan ke Melak, Kutai Barat (Kubar) untuk memberi kabar keluarga kalau piring besar itu sudah ada yang mau membeli. Kemudian, salah satu pelaku mencoba menghubungi pembelinya dan berjanji akan datang esok harinya.

“ Besoknya, ada dua orang haji datang ke rumah korban dan memeriksa piring besar warna hijau itu dengan senter dan melihat ada gambar naga di dalam piringnya. Bahkan, orang tersebut juga mencoba menuangkan air panas di piring itu dan airnya menjadi dingin,” terang Muhadi.

Setelah memeriksa piring itu, dua orang tersebut mengatakan kalau piring itu asli dan di hadapan Sp keduanya menyatakan berani membayar Rp 2 miliar dan keduanya pulang. Kemudian, sekitar satu minggu pelaku yang memiliki piring itu datang ke rumah Sp untuk mengambil piring tersebut.

Namun saat itu pelaku yang datang bersama temannya sambil menangis dan menceritakan kalau kakeknya yang sakit telah meninggal. Bahkan pelaku tersebut langsung meminjam uang sebesar Rp 250 juta kepada Sp untuk acara adat dan akan diganti apabila piring sudah dibayar oleh pembelinya.

“ Waktu itu korban tanpa sadar seperti di hipnotis memberikan uang tunai sebesar Rp 250 juta kepada pelaku. Tak lama kemudian pelaku dihubungi oleh seseorang yang mengaku sebagai Kepala Desa (Kades) Loksado dan mengatakan kepada pelaku kalau uangnya kurang dan minta dikirimkan lagi Rp 500 juta,” kata Muhadi sesuai laporan Sp.

Selanjutnya, pelaku kembali mendatangi Sp dan memohon untuk dibantu. Sp yang kasihan langsung mengirimkan uang via transfer sebesar Rp 400 juta lagi tanpa sadar. Merasa berhasil, besoknya pelaku kembali mendatangi Sp dan meminta dibantu uang lagi sebesar Rp 100 juta, namun Sp tidak mau.

“ Saat itu orang yang berencana membeli piring itu menelpon pelaku dan meminta pelaku untuk menyelesaikan permasalahannya dengan korban. Apabila tidak diselesaikan orang yang membeli itu tidak mau membayarnya karena takut kena karma atau ketulahan. Semenjak itu pelaku tak kunjung datang lagi dan korban merasa telah menjadi ditipu dengan motif gendam,” urai Kapolsek.

Usai dua pelakunya diamankan, yakni Ali dan Usup, polisi langsung melakukan pemeriksaan. Dari pengakuan Ali, dirinya hanya bertugas menemani dan berpura-pura menjadi orang bisa dan tidak bisa berbahasa Indonesia, sementara Usup bertugas mengantarkan Ali ke rumah Sp. “ Saat ini dua pelaku ini sudah kami tetapkan sebagai tersangka dan penahanannya kami lakukan di Polres Kukar,” kata Muhadi.

Terpisah, Ali mengaku merantau ke Kalimantan Timur (Kaltim) sejak awal Januari 2015 lalu. Dirinya datang ke Kaltim lantaran diajak oleh salah satu pelaku berinisial UN. “ Saya hanya diajak saja, katanya (UN,Red) ada kerjaan dan saya mau saja,” ucap Ali saat ditemui di Polres Kukar Selasa siang.

Perkenalannya dengan UN terjadi di Banjarmasin, Kalsel. Disana keduanya kemudian bertukar nomor handphone (Hp).

“ Waktu diajak kerja sama dia itu saya sudah di Balikpapan dan sedang bekerja sebagai buruh bangunan. Ketika dihubungi dia, saya langsung berangkat dari Balikpapan menggunakan sepeda motor ke rumah kontrakannya di Harapan Baru, Samarinda dekat eks Lokalisasi Loa Hui,” ujar Ali.

Esok harinya, Ali diajak oleh UN ke rumah ibu SP di Sangasanga dan saat itu Ali diantar oleh Usup menggunakan sepeda motor. “ Kalau tidak salah waktu itu kami datang pagi hari dan saya baru pertama kalinya datang ke rumah ibu itu. Sementara teman saya (UN,Red) itu sudah tiga kali,” aku duda ini.

Sewaktu di rumah Sp, Ali hanya duduk di lantai depan teras rumah, sedangkan UN masuk ke dalam bertemu dengan Sp. Sekitar 1 jam kemudian, UN keluar sambil membawa tas ransel berisikan uang.

“ Habis itu kami langsung pulang ke rumah kontrakannnya di Harapan Baru. Disana saya langsung dikasih oleh dia uang sebesar Rp 45 juta dan saya kasih Rp 15 juta untuk Usup yang sudah mengantarkan saya. Setelah itu saya kembali kembali ke Balikpapan dan tidak ada bertemu lagi dengan UN,” terang Ali.

Ditanya apakah UN memiliki ilmu hipnotis atau gendam, Ali mengaku sama sekali tidak tahu. Pasalnya UN tidak pernah bercerita soal ilmu dan hanya mengajaknya bekerja. “ Kalau saya tidak ada ilmu begituan, saya hanya buruh bangunan saja dan ikut menemaninya,” pungkasnya. (bay)