Pemukiman Warga Sebuntal Bakal Tenggelam

1News.id, Kutai Kartanegara – Kalangan wakil rakyat di DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), terutama Guntur dan Rudiansyah selaku Wakil Ketua, menyatakan kecewa atas perencanaan pembangunan bendungan di Kecamatan Marangkayu. Sebab ketika Kamis (8/10) lalu, Guntur dan Rudi –begitu Rudiansyah biasa disapa– berkunjung ke Camat Marangkayu, Rekson Simanjuntak, disebutkan pemukiman warga Desa Sebuntal bakal tenggelam begitu bendungan bernilai ratusan miliar Rupiah itu difungsikan.

“Kami kecewa dengan perencanaan pembangunan bendungan tersebut. Karena dari pantauan Pak Camat (Rekson, Red) di lapangan, begitu bendungan terealisasi dipastikan Desa Sebuntal tenggelam. Tak hanya itu, terjadi pula gesekan dengan kegiatan operasional perusahaan VICO Indonesia yang memiliki banyak sumur gas di areal tersebut,” ujar Wakil Ketua DPRD Kukar, Guntur.

Penjelasan disampaikan Camat Marangkayu tersebut memang mengejutkan Guntur dan Rudi, mengingat sejak kalangan DPRD Kukar periode lalu telah setuju dengan proyek pembangunan bendungan dibiayai bersama APBN dan APBD Kukar.

“Tentu saja teman-teman Dewan periode lalu, termasuk saat ini, awalnya setuju dengan pembangunan bendungan tersebut. Karena adanya bendungan Marangkayu, ke depan bisa mengairi semua areal persawahan, terutama pada musim kemarau. Jadi petani Marangkayu tidak kesulitan bercocok tanam. Ketika debit air bendungan mengalami kelebihan, bisa pula dijual sebagai bahan baku air bersih ke PDAM Bontang. Kan itu jadi salah satu sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kukar,” tambah Guntur.

Terkait dengan kondisi di lapangan, Rudi menuturkan pihaknya segera memanggil Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kukar beserta instansi teknis terkait, untuk membahas lebih jauh kajian teknis mengenai pembangunan bendungan Marangkayu.

“Kami juga akan mempertanyakan ke pemerintah pusat, kenapa pekerjaan di lapangan tidak sesuai dengan perencanaan awal. Makanya Bappeda bersama instansi teknis terkait hasil membahas persoalan ini. Jangan sampai bendungan di Marangkayu itu menjadi proyek gagal dan mubazir,” jelas Rudi.

Menurut penjelasan Camat Marangkayu, Rekson, wacana dilanjutkan rencana pembangunan bendungan itu muncul sejak 1982. Ketika itu kemarau panjang mendera wilayah Marangkayu dan sekitarnya, sehingga menyebabkan sawah petani gagal panen.

“Rencana pembangunan bendungan itu kemudian bisa dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir. Ternyata perencanaan awal dengan fakta di lapangan saat ini, berbeda jauh. Kan dulu rencananya bendungan di Sungai Santan, tapi sekarang dibangun pada sungai kecil terletak di Desa Sebuntal. Makanya bendungan itu nanti akan menenggelamkan kawasan Desa Sebuntal,” urai Rekson.(bay)

Berikan Tanggapanmu