Dibunuh Siang Hari, Membunuh Karena Merasa Dijebak

1News.id, Kutai Kartanegara – Indra Septian (27) pelaku pembunuhan mengatakan kepala Ririn Anisha (18) masih tertawa padahal sudah terpenggal. Hal itu diungkapkannya kepada 1News.id usai mencari kepala Ririn yang dibuang dalam jurang di Dusun Putak, Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), Sabtu (8/8/2015) dini hari. “ Iya mas, waktu kepalanya sudah terpenggal dia (Ririn,Red.) masih ketawa cekikian, setelah saya pisahkan 100 meter dari tubuhnya baru berhenti ketawa,” ujar Indra.

IMG_20150808_170006

Pria yang bekerja sebagai Honorer di Dispenda Pemkab Kutai Barat (Kubar) ini menceritakan mengapa dirinya tega membunuh Ririn. Berawal saat Ririn mengirimkan SMS kepadanya, isi pesan singkat itu bertuliskan Ririn sedang berada di Balikpapan. Namun, pada malam Sabtu (31/7/2015) lalu Indra yang sedang bepergian ke Loa Duri tidak sengaja bertemu Ririn. “ Pas saya tahu dia di Loa Duri saya kesal, saya merasa dibohongi. Dia bilang lagi di Balikpapan, ternyata lagi di Loa Duri naik mobil dan saya pun bingung kok ada anak ini, bahkan saya nggak tahu dia dari tempat siapa,” katanya.

Kemudian Sabtu (1/8/2015) pagi sekitar pukul 08.00 Wita Indra menghubungi Ririn untuk bertanya sedang apa di Loa Duri, setelah itu ditutup. Kemudian sekitar pukul 10.00 Wita, Ririn malah balik menghubungi Indra. “ Dia tanya dimana? Kemudian dia bilang ayo ini aku ada bahan (sabu,Red.), ayo ka kita pakai bahan ini sama-sama,” terang Indra.

Mendapat ajakan Ririn, Indra mengaku terkejut, padahal Indra mengenal Ririn sebagai anak yang kurang mampu. “ Terkejut saya mas, maka dia itu anaknya susah, tapi tiba-tiba saja dia ada banyak bahan,” ucap pria yang tinggal di Desa Belempung, Kecamatan Barong Tongkok ini.

Merasa dapat tawaran pesta sabu, Indra menjemput Ririn dan sekitar pukul 11.00 Wita, keduanya mencoba mencari tempat untuk memakai sabu itu di dalam lokasi jalan hauling PT ABK yang terletak di Dusun Putak tersebut. “ Saat itu aku bawa jalan-jalan dulu dan waktu itu aku sambil pakai headset ditelinga. Mungkin mengira aku nggak dengar, dia menelpon orang dan dia bilang ini sudah ada orangnya, bahannya juga sudah ada, jadi sudah siap. Nah maksudnya itu apa? Ternyata dia mau menjebak saya agar ditangkap,” cetus Indra.

Kontan Indra langsung marah dan Indra langsung mengambil anak senjata tajam (Sajam) jenis Mandau dibawah jok tempat duduknya. Kemudian anak Mandau tersebut langsung ditusukkan ke paha kanan Ririn. “ Waktu saya tusukkan ke paha kanannya nggak tembus, asli nggak tembus mas,” terangnya.

Evakuasi-Kepala-Ririn

Gagal menusukkan anak Mandau itu, sekitar pukul 11.30 Wita Indra meminta Ririn turun dari mobil. Saat sudah diluar mobil, Indra langsung melayangkan Mandau berukuran besar yang dipegang ke arah tangan kiri Ririn. “ Saya timpas tangan kirinya berulang kali mas tapi nggak berdarah, hanya luka sedikit saja dan itupun sudah nggak pakai anak Mandau lagi,” katanya.

Ditimpas hingga disayat dikiri dan kanan tangannya dengan mandau, Ririn hanya tersenyum. Indra kemudian meminta agar Ririn kembali berdiri. “ Waktu itu jalan hauling lagi sepi, dan dia bilang ke saya, ka kalau kakak tidak menyakiti dan tidak menyelesaikan (membunuh,Red.) saya, sampai saya masih hidup sakit kamu ka, selesai kakak. Gitu katanya mas,” aku Indra.

Bahkan, usai mengatakan hal tersebut Ririn langsung menyodorkan leher sebelah kanannya sambil menarik rambut panjangnya ke atas agar Indra bisa menimpaskan Mandau tersebut ke bagian leher. “ Katanya timpas sudah, tapi saya tahu kalau dia kebal dan dia sering bilang kebal. Sebelum saya timpas, saya tusukkan dulu Mandau itu ke tanah, dan pas saya coba tembus lehernya,” jelas Indra sambil memperagakan.

Indra mengatakan, timpasan ke arah leher Ririn dilakukannya sekitar 4 atau 5 kali. Setelah leher Ririn terpenggal, tubuh Ririn langsung jatuh ke tanah. “ Sampai kepalanya putus itu mas nggak ada darahnya, bahkan tubuhnya yang jatuh itu berdiri lagi dan duduk bersila sambil memegang batang rokok ditangan kirinya, bahkan kepalanya masih tertawa,” ungkapnya lagi.

Kepala Ririn secepatnya dipisahkan Indra dari tubuhnya, kepalanya itu dibuang ke dalam jurang beserta handuk, sandal dan bandonya di dalam sebuah karung putih, sedangkan pakaiannya di jurang disisi jalan lainnya. Karung itu dia peroleh di rawa-rawa yang ada dilokasi jalan hauling tersebut. “ Kepalanya saya langsung lempar ke dalam jurang mas, kalau badannya saya naikkan lagi ke mobil dan saya bawa agak ke dalam lagi, setelah itu saya tinggalkan semalaman dilokasi jalan hauling,” ucap Indra.

Keesokan harinya, Minggu (2/8/2015) sore sekitar pukul 4, Indra kembali mendatangi potongan tubuh Ririn yang ditinggalkannya di pinggiran jalan hauling tersebut. Kemudian tubuh yang belum dikarungi itu diangkut ke dalam mobil Avanza silver KT 1286 CF untuk dibawa ke Kota Bangun dimana tubuh Ririn dibuang. “ Saya buangnya sekitar jam 10 malam naik perahu, kemudian saya buang ditengah-tengah sungai dan tidak ada orang sama sekali. Mengenai batu itu saya bawa dari jalan hauling dan saya bungkus dengan baju olahraga punya saya sendiri. Setelah dibuang, saya pun pulang ke Kubar,” tutur dia.

Indra menambahkan, mengenai kabar kalau dia sempat berpacaran dengan Ririn, Indra membantahnya. Dirinya dengan Ririn hanya sebatas teman biasa. “ Dia sering kali ke rumah dan saya kenal dengan dia sudah 2 tahunan di Kubar. Sampai sekarang, saya nggak sempat pacaran dengan dia,” akunya.

Setelah menghabisi nyawa wanita muda tersebut, Indra tentu merasakan penyesalan yang sangat dalam. Apalagi dirinya mengaku tidak merencanakan pembunuhan ini. “ Pertama perasaan saya menyesal, kedua tidak ada rencana aku mau bunuh dia, ini spontan saja karena dia mau jebak saya. Yang jelas kenapa kepala dan badannya kupisahkan, karena dia bilang punya ilmu,” pungkasnya. (bay)

Berikan Tanggapanmu